1. MEKAH PADA TAHUN 1927

Harga getah di Jambi, dan di seluruh tanah ini sedang naik, negeri Mekah baru saja pindah dari tangan Syarief Husin ke tangan Ibnu Saud, Raja Hejaz dan Nejd dan daerah takluknya, yang kemudian ditukar namanya menjadi Kerajaan "Arabiyah Saudiyah". Setahun sebelum itu telah naik haji pula dua orang yang kenamaan dari negeri kita. (H.O.S. Cokroamintota dan KH Mas Mansur, naik haji pada tahun 1926). Maka tersiarlah keamanan Negeri Hejaz. Karena itu banyak orang yang berniat mencukupkan Rukun Islam yang kelima itu. Tiap-tiap kapal haji yang berangkat menuju Jedah penuh sesak membawa jemaah haji.

Konon kabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum itu ataupun sesudahnya.

Waktu itulah saya naik haji. Dari Pelabuhan Belawan saya telah berlayar ke Jedah, menumpang kapal "Karimata". Empat belas hari lamanya saya terkatung-katung di dalam lautan besar. Pada hari kelima belas sampailah saya ke Pelabuhan Jedah, di pantai Laut Merah itu. Dua hari kemudian saya pun sampai di Mekah, Tanah Suci kaum muslimin sedunia.

Alangkah besar hati saya ketika melihat Ka'bah, tidaklah dapat saya perikan; karena dari kecilku, sebagai kebiasaan tiap-tiap orang islam, Ka'bah dan menara Masjidil Haram yang tujuh itu telah menjadi kenang-kenanganku.

Saya injak Tanah Suci dengan persangkaan yang baik. Saya hadapi tiap-tiap orang yang orang yang mengerjakan ibadat dengan penuh kepercayaan, bahwa mereka pun merasai gembira, yang sebagai saya rasai itu. Mula-mula saya menyangka, bahwa di negeri yang suci itu, saya tidak akan bertemu dengan kejadian yang ganjil atau hikayat yang sedih dalam kehidupan manusia. Sebab sangka saya, tentu saja selain dari diri saya sendiri, orang-orang yang datang kesana itu adalah orang-orang yang gembira dan mampu, yang banyak tertawanya daripada tangisnya. Tetapi rupanya, di mana jua pun di atas dunia ini, asal ditempati oleh manusia, kita akan bertemu dengan kekayaan dan kemiskinan, kesukaan dan kedukaan, tertawa dan ratap tangis.

Saya telah mendengar, di antara azan (bang) yang sayup-sayup sampai di puncak menara yang tujuh, di antara gemuruh do'a manusia yang sedang berkeliling (tawaf) di sekitar Ka'bah, di antara takbir umat yang sedang berlari pergi balik antara Bukit Safa dan Marwah, saya telah mendengar ratap dan rintih seorang makhluk Tuhan, sayup-sayup sampai, antara ada dengan tiada, hilang-hilang timbul di dalam gemuruh yang hebat itu.

Sebagai kebiasaan jemaah dari Tanah Jawa, saya menumpang di rumah seorang syekh yang pekerjaan dan pencahariannya semata-mata dari memberi tumpangan bagi orang haji. Di hadapan kamar yang telah ditentukan syekh untuk saya, ada pula sebuah kamar berukuran kecil yang muat dua orang. Di sana tinggal seorang anak muda yang baru berusia kira-kira 23 tahun, badannya kurus lampai, rambutnya hitam berminyak, sifatnya pendiam, suka bermenung seorang diri dalam kamarnya itu. Biasanya sebelum kedengaran azan Subuh, ia telah lebih dahulu bangun, pergi ke mesjid seorang dirinya. Menurut keterangan syekh kami, anak muda itu berasal dari sumatra, datang pada tahun yang lalu, jadi adalah dia seorang yang telah mukim di Mekah.

Melihat kebiasaannya yang demikian dan sifatnya yang saleh, saya menaruh hormat yang besar atas dirinya dan saya ingin hendak berkenalan. Maka dalam dua hari saja berhasillah maksud saya itu; saya telah beroleh seorang sahabat yang mulia dan patut dicontoh. Hidupnya amat sederhana, tiada lalai dari beribadat, tiada suka membuang-buang waktu kepada yang tiada berfaedah, lagi amat suka memperhatikan buku-buku agama, terutama kitab-kitab yang menerangkan kehidupan orang-orang yang suci, ahli-ahli tasawuf yang tinggi.

Bila saya terlanjur membicarakan dunia dan hal-ihwalnya dengan amat halus dan tiada terasa pembicaraan itu dibelokkannya kepada kehalusan budi pekerti dan ketinggian kesopanan agama, sehingga akhirnya saya terpaksa tunduk dan memandangnya lebih mulia daripada biasa.

Baharu dua bulan saja, semenjak awal Ramadhan sampai Syawal, pergaulan saya dengan dia, telah banyak saya tertarik olehnya di dalam menuju kesucian, terutama di negeri yang semata-mata untuk beribadat itu. Tetapi pergaulan yang baik itu tiba-tiba terusik sebab dengan kapal yang paling akhir telah tiba seorang teman baru dari Padang. Entah karena kebetulan saja, atau disengaja lebih dahulu, ia telah menjadi jemaah syekh kami pula. Sahabat saya yang baru itu amat terkejut melihat bahwa sahabat saya ada di Mekah. Rupanya tidak disangka-sangkanya mereka akan bertemu di sana dan sahabat saya pun rupanya tidak pula menyangka akan bertemu dengan saudara baru itu.

Nama sahabat saya ialah Hamid dan nama saudara baru itu Saleh.

Saleh, menurut keterangannya, hanya dua atau tiga hari saja sebelum naik haji akan tinggal di Mekah, dia akan pergi ke Madinah lebih dahulu; dua tiga hari pula sebelum jemaah haji ke Arafah ia kembali ke Mekah. Setelah selesai mengerjakan haji, dia akan meneruskan perjalanannya ke Mesir, menyambung pelajarannya.
>

>

Kedatangan sahabat baru itu mengubah keadaan dan sifat-sifat Hamid. Entah kabar apa agaknya yang baru dibawa Saleh dari kampung yang mengganggu ketenteraman pikiran Hamid. Ia bertambah sungguh membaca kita-kitab, terutama tasawuf karangan Imam Ghazali. Kadang-kadang kelihatan ia bermenung seorang diri di atas sutuh rumah tempatnya tinggal, melihat tenang-tenang kepada "gela'ah" (benteng-benteng) tua di atas puncak Jabal Hindi. Saya seakan seakan-akan tiada dipedulikannya lagi. Satu kali terlihat oleh saya, ketika saya mengerjakan tawaf keliling Ka'bah, ia bergantung pada kiswah, menengadahkan mukanya ke langit, air matanya titik amat derasnya membasahi serban yang memalut dadanya, kedengaran pula ia berdo'a, "Ya Allah kuatkanlah hati hambaMu ini!"

Sebenarnya saya ini pun seorang yang lemah hati, kesedihannya itu telah pindah ke dada saya, meskipun saya tak tahu apa yang disedihkannya.

Kabar apakah agaknya yang dibawa Saleh dari kampung? Apakah sebab Hamid bersedih hati demikian rupa? Dunia yang mnakah yang telah memutuskan harapannya? Tipu daya siapakah yang telah melukai hatinya, hingga ia berhal demikia itu?

Itu senantiasa menjadi soal kepada saya.

Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya di atas sutuh, di atas sebuah bangku yang berhamparkan daun kurma berjalin, memandang kepada bintang-bintang yang memancarkan cahayanya yang indah di halaman langit, saya beranikan hati mendekatkan diri dengannya. Maksud saya kalau dapat hendak membagi keduakaan hatinya.

"Saudara Hamid!" kata saya.

"Oh saudara, duduklah ke mari!" katanya pula sambil memperbaiki duduknya dan mempersilahkan saya.

Setelah sama-sama duduk, ia pun menanyakan keramaian orang haji dan kami pun memperkatakan keadaan pada tahun itu. Tiap-tiap perkataan terhadap kepada Tanah Air, pembicaraan diputarnya kepada yang lain, serupa ia tak suka. Maka akhirnya hati saya tidak tahan lagi, saya pun berkata:

"Sudah lama saya perhatikan hal-ihwalmu, Saudara rupanya engkau dalam duka cita yang amat sangat. Agaknya engkau kurang percaya kepada saya, sehingga engkau tak mau membagi-bagikan kedukaan itu dengan saya. Sebagai seorang kawan, yang wajib berat sama memikul dan ringan sama menjinjing, apabila jauh dari tanah air, sewajibnyalah saya engkau beri tahu, apakah yang menyusahkan hatimu sekarang, sehingga banyak perubahanmu daripada yang biasa?

Ia melihat kepada saya tenang-tenang.

"Katakanlah kepada saya, wahai Sahabat!" ujar saya pula.

"Saya akan menolong engkau sekedar tenaga yang ada pada saya. Karena meskipun kita belum lama bergaul, saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan engkau kepada diri saya."

"ini satu rahasi tuan!" katanya.

"Akan saya pikul rahasia itu jika engkau percaya kepadaku, setelah itu saya kunci pintunya erat-erat, kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh, sehingga seorang pun tak dapat mengambilnya ke dalam hatiku lagi."

Mendengar ucapan saya itu mukanya kembali tenang dan ia berkata, "Jika telah demikian Tuan berjanji, tentu Tuan tidak akan menyia-nyiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada Tuan, karena kebaikan budi Tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada Tuan sebab-sebab saya bersedih hati, akan saya paparkan satu persatu, sebagaimana berkata-kata dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap Tuan simpan cerita perasaan saya ini selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada Tuan, siapa tahu ajal di dalam tangan Allah, saya izinkan Tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan meratap memikirkan kemalangan nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin memberi rahmat kepada saya di tanah pekuburan."

Air mata saya terpercik mendengarkan perkataanya itu.

Ia bermenung kira-kira dua atau tiga menit; di antara gemuruh suara manusia yang hampir sunyi di dalam Masjidil Haram itu, di antara do'a beribu-ribu makhluk yang sedang berangkat ke langit ke hadirat Tuhan, sahabatku itu mengumpulkan ingatannya. Awan gelap yang menutup keningnya hilanglah dari sedikit ke sedikit; setelah itu ia menarik nafas panjang, seakan-akan mengumpulkan ingatan yang bercerai-berai dan ia pun memulai perkataanya.

2. ANAK YANG KEMATIAN AYAH

Masa saya masih berusia empat tahun, ayah saya telah wafat. Dia telah meninggalkan saya sebelum saya kenal siapa dia dan betapa rupanya. Hanya di dinding masih saya dapati gambarnya, gambar semasa ia masih muda, gagah dan manis.

Ia meninggalkan saya dan ibu di dalam keadaan yang sangat melarat. Rumah tempat kami tinggal hanya sebuah rumah kecil yang telah tua, yang lebih pantas kalau disebut gubuk atau dangau. Kemiskinan telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini, karena tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah terban. Hanyalah saya yang tinggal, jerat semata, tempat dia menggantungkan pengharapan untuk zaman yang akan datang, zaman yang masih gelap.

Meskipun masa itu ibu masih muda dan ada juga dua tiga orang dari kalangan saudagar-saudagar atau orang-orang berpangkat yang memintanya menjadi istri tetapi semuanya telah ditolaknya dengan perasaan yang sangat terharu. Hatinya masih belum lupa kepada almarhum ayah, semangatnya boleh dikatakan telah mengikuti ke pekuburan.

Diwaktu malam, ketika akan tidur; kerap kali ibu menceritakan kebaikan ayah semasa beliau hidup; ia seorang terpandang dalam pergaulan dan amat besar cita-citanya jika saya besar, akan menyerahkan saya masuk ke sekolah, supaya menjadi orang yang terpelajar. Masa itu daun sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat, orang pun datanglah berduyun-duyun menghampirkan diri, mengatakan mamak, mereka itu mendakwakan bersaudara, berkarib, berfamili, rumah tangga senantiasa mendapat kunjungan dari kiri dan kanan. Tetapi setelah perniagaan ayah jatuh dan kemelaratan menjadi ganti segala kesenangan itu tersisihlah kedua laki istri itu dari pergaulan, tersisih dan renggang dari sedikit ke sedikit. Lantaran malu, ayah pindah ke kota padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu, supaya namanya hilang sama sekali dari kalangan kaum kerabat itu.

Ibu pun menunjukkan kepadaku beberapa do'a dan bacaan, yang menjadi wirid dari almarhum ayah semasa mendiang hidup, menghamparkan pengharapan yang besa-besar kepada Tuhan serwa sekalian alam, memohonkan belas kasih Nya.

Karena di dalam umur yang semuda itu telah ditimpa sengsara yang tiada berkeputusan, tidak lah sempat saya meniru meneladan teman sesama anak-anak. Di waktu teman-teman bersuka ria bersenda gurau, melepaskan hati yang masih merdeka, saya hanya duduk dalam rumah di dekat ibu, mengerjakan apa yang dapat saya tolong. Kadang-kadang ada juga disuruhnya saya bermain-main, tetapi hati saya tiada dapat gembira sebagai teman-teman itu, karena kegembiraan bukanlah saduran dari luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira itu. Apalagi kalau saya ingat, bagaimana dia kerap kali menyembunyikan air matanya di dekat saya, sehingga saya tak sanggup menjauhkan diri darinya.
>>

>>

Setelah saya agak besar, saya lihat banyak anak-anak yang sebaya saya menjajakan kue-kue; maka saya mintalah kepadanya supaya dia sudi pula membuat kue-kue itu, saya sanggup menjualkannya dari lorong ke lorong, dari satu beranda rumah orang ke beranda yang lain, mudah-mudahan dapat meringankan agak sedikit tanggungan yang berat itu. Permintaan itu terpaksa dikabulkannya, sehingga akhirnya saya telah menjadi seorang anak penjual kue yang terkenal.

3. PENOLONG

Enam bulan kemudian.

Di dekat rumah kami ada sebuah gedung besar bepekarangan yang cukup luas; dalam pekarangan itu ada juga ditanam buah-buahan yang sudah lezat, sebagai saoh dan rambutan. Rumah itu sudah lama tinggal kosong, karena yang empunya, seorang Belanda, telah pulang ke Eropa; yang menjaga selama ini adalah seorang jongos tua. Kabarnya konon rumah itu akan dijual, sebab tuan itu tidak akan kembali lagi ke negeri ini. Selama itu kerap kali kami datang ke situ meminta buah rambutan dan saoh (sawo) kepada Pak Paiman, demikian nama jongos tua itu.

Tiba-tiba rumah itu kembali diperbaiki, karena telah dibeli oleh seorang saudagar tua yang hendak berhenti dari berniaga. Ia akan hidup di hari tua dengan senang, sebagai mengaso dari pekerjaanya yang berat di waktu muda, memakan hasil dari rumah-rumah sewaan yang banyak di Padang dan di Bukittinggi, demikian pun sawah-sawahnya yang luas di sebelah Payakumbuh dan Lintau.

Setelah rumah itu selesai diperbaiki, pindahlah orang hartawan itu ke sana bersama dengan istri dan seorang ananknya perempuan. Di hadapan rumah itu, di atas satu batu marmer yang licin dan mungil ada tertulis leter: Haji Ja'far.

Tiap-tiap pagi saya lalu di hadapan rumah itu menjunjung nyiru berisi goreng pisang. Mata saya senantiasa memanandang ke jendela-jendelanya yang berlelansir kain sutra kuning hendak melihat keindah perabotan rumah. Pikiran saya menjalar, memikirkan kesenangan hati orang yang tinggal dalam itu, cukup apa yang akan di makannya dan diminumnya; air selera saya menjelijih bila saya ingat, bahwa kami di rumah kadang makan kadang tidak. Setelah saya akan meninggalkan halaman saya panggilkan jualan saya, "Beli goreng pisang! Masih panas!"

Lama-lama tertariklah perempuan yang setengah tua itu hendak memanggil jualan saya, demikian juga anaknya. Pernah kedengaran oleh saya dia berkata, "Panggillah Nab, kasihan juga awak!"

Perempuan itu suka memakan sirih, mukanya jernih, peramah dan penyayang. Pak Paiman yang telah jadi jongos untuk memelihara pekarangan itu, belum pernah dapat suara keras darinya. Anak perempuannya itu masih kecil, sebaya dengan saya. Apa perintah ibunya diikutinya dengan patuh, rupanya ia amat disayangi karena anaknya hanya seorang itu.

Sudah dua tiga kali saya datang ke rumah yang indah dan bagus itu; setiap saya datang setiap bertambah sukanya melihat kelakuan saya dan belas kasihan akan nasib saya. Pada suatu hari perempuan itu bertanya kepada saya:

"Di mana engkau tinggal. Anak, dan siapa ayah bundamu?"

"Saya tinggal dekat saja, Mak" jawab saya. "itu rumah tempat kami tinggal, di seberang jalan. Ayah saya telah meninggal dan saya tinggal dengan ibu saya. Beliaulah yang membuat kue-kue ini; pagi-pagi saya berjualan goreng pisang dan kalau sore biasanya menjual rakit udang atau godok perut ayam."

"Berapakah keuntunganmu sehari?" tanyanya pula.

"Tidak tentu, Mak. Kadang-kadang kalau untung baik, dapat setali, kadang-kadang kurang dari itu, sekedar cukup untuk kami makan setiap hari ..."

"Kasihan ...," katanya sambil menarik nafasnya.

Setelah itu ia berkata pula, "Bawalah ibumu nanti sore ke mari, katakan mamak yang baru pindah ke rumah itu hendak berkenalan dengan ibu."

"Saya Mak, ibu saya kurang benar keluar dari rumah."

"Suruhlah saja dia datang kemari, mamak perlu hendak bertemu."

"Baiklah kalau begitu, Mak, "jawab saya.
>>>

>>>

Setelah itu saya pun pulang, sampai di rumah saya katakanlah kepada ibu perkataan orang di gedung besar itu. Mula-mula ibu seakan-akan hendak menampik, dia agak marah kepada saya, kalau-kalau saya telah bercepat mulut menerangkan untung perasaian kami kepada orang lain. Tetapi setelah mendengar ketaerangan saya, hatinya pun senang. Pada sorenya dengan takut-takut cemas pergilah dia ke rumah besar itu.

Meskipun ibu saya merasa malu-malu dan isaf akan kerendahan derajatnya. Mak Asiah, demikian nama istri Engku Haji Ja'far itu, sekali-kali tiada meninggikan diri, sebagai kebiasaan perempuan-perempuan istri orang hartawan atau orang berpangkat yang lain. Bahkan ibuku dipandangnya sebagai saudaranya, segala perasaian dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan muka yang rawan, kadang-kadang ia pun turut menangis waktu ibu menceritakan hal-hal yang sedih-sedih. Sehingga waktu cerita itu habis, terjadilah di antara keduanya persahabatan yang kental, harga-menghargai dan cinta mencintai.

Sejak saat itu saya telah leluasa datang ke rumah itu. Saya sudah beroleh adik yang tidak berapa tahun kecilnya dari saya, yaitu anak perempuan di gedung besar itu. Zainab namanya.

Peribahasa yang halus dari Mak Asiah, adalah didikan juga dari suaminya, seorang hartawan yang amat peramah kepada fakir dan miskin. Konon kabarnya, kekayaan yang didapatnya itu adalah dari usahanya sendiri dan cucur peluhnya, bukan waris dari orang tuanya. Dahulunya dia seorang yang melarat juga, tetapi berkat yakinnya, terbukalah pintu pencaharian. Sungguhpun dia telah kaya raya, sekali-kali tidaklah dia lupa kepada keadaanya tempo dahulu, dia amat insaf melihat orang-orang yang melarat, lekas memberi pertolongan kepada orang yang berhajat.

Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu saya dengan perasaan yang sangat gembira, membawa kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja'far sendiri bersama-sama anaknya.

Mendengar perkataan itu, terlompatlah air mata ibuku karena suka cita, kejadian yang selama ini sangat diharap-harapkannya.

Besok paginya, saya tidak menjunjung nyiru tempat kue lagi, tetapi telah pergi ke sekolah mengepit buku tulis. Agaknya dua macam faedah yang akan diambil Engku Haji Ja'far menyerahkan saya, pertama untuk menolong saya, kedua untuk jadi teman anaknya. Saya pun insaf, lebih-lebih setelah dapat beberapa nasihat dari ibuku. Zainab telah saya pandang sebagai adik kandung, saya jaga dari gangguan murid-murid yang lain. Lepas dari sekolah kerap kali saya datang dengan ibu ke rumah besar itu, kalau-kalau ada yang patut kami bantu dan kami tolong, karena kami telah dipandang sebagai anggota rumah yang indah itu.

Umur saya lebih tua daripada Zainab. Meskipun saya hanya anak yang beroleh tolongan dari ayahnya, sekali-kali tidaklah Zainab memandang saya sebagai orang lain lagi, tidak pula pernah mengangkat diri, agaknya karena kebaikan didikan ayah bundanya. Cuma di sekolah, anak-anak orang kaya kerap kali menggelakkan saya, anak berjual goreng pisang telah bersekolah sama-sama dengan anak orang hartawan.
>>>

>>>

Dua perkataan yang manis, yang timbul dari hati yang suci, telah merapatkan kami, perkataan itu ialah abang dan adik.

Sampai sekarang, saya masih teringat nikmat kehidupan dalam dunia anak-anak yang kerap kali diratapi oleh ahli-ahli syair, yang hanya datang sekali ke alam manusia selama hidupnya. Waktu itu bila pulang dari sekolah, saya dan Zainab bersama teman-teman kami yang lain berlari-lari bermain gala dalam pekarangan rumahnya, memanjat pohon rambutan yang sedang ranum, kadang-kadang bercari-carian dan bersorak-sorak. Waktu itu ibuku dan ibunya sedang duduk di beranda belakang; ibuku senantiasa merendahkan diri, melihat kami dengan rasa suka cita. Kadang-kadang di waktu sore kami duduk di beranda muka, membalik-balik buku gambar, bertengkar dan berkelahi, kemudian damai pula.

Hari minggu kami diizinkan pergi ke tepi laut, ke Muara atau ke tepi Batang Arau, melihat perahu pengail yang sedang dikatung-katungkan gelombang di tengah samudra luas, kain layarnya dipuput oleh angin mengantarkannya ke tengah, akan mencari rezekinya. Negerh Periaman hijau nampaknya dari jauh, ombak memecah dan menderum tiada berhenti memukuli tepi pasir itu. Di sana kami berlari-lari mengejar ambai-ambai yang sigap dan lekas lari ke sarangnya. Kadang-kadang kami perbuat unggunan pasir sebagai rumah-rumah atau mejid, tiba-tiba datang ombak yang agak besar, dihapuskannya unggunan yang kami dirikan itu; anak-anak perempuan lari ke tepi menyingsingkan tepi bajaunya, takut tersiram air laut.

Waktu orang berlimau, sehari orang akan puasa, kami dibawa ke atas puncak Gunung Padang, karena di sanalah ayahku berkubur dan beberapa famili ibu Zainab. Saya disuruh membawa air wangi dalam botol. Zainab membawa bunga-bungaan dan ibuku beserta ibunya mengiring dari belakang.

Semuanya masih tergambar dalam pikiran saya hari ini. Masih saya ingat bahwa persaudaraan kami suci dan ikhlas adanya, dari tahun berganti tahun, sampai kami tamat dari sekolah pertengahan.

Amat besar budi Engku Haji Ja'far kepada saya, banyak kepandaian yang telah saya peroleh karena kebaikan budinya itu. Dari sekolah rendah (HIS) saya sama-sama naik dengan anaknya menduduki MULO. Tetapi setelah tamat dari sana, sekolah kami takkan disambung lagi, karena sebenarnya didikan ibuku akan melekat pada diri saya, yaitu condong kepada mempelajari agama. Zainab pun hingga itu pelajarannya, karena dalam adat orang hartawan dan bangsawan Padang, kemajuan anak perempuan itu hanya terbatas hingga MULO, belum berani mereka keluar dari kebiasaan umum, melepaskan anak perempuannya belajar jauh-jauh. Setelah tamat dari MULO, menurut adat Zainab masuk dalam pingitan, ia tidak akan dapat keluar lagi kalau tidak ada keperluan yang sangat penting, itu pun harus ditemani oleh ibu atau kepercayaannya, sampai datang masanya bersuami kelak.

Dan saya, bila sekolah itu tamat, akan berangkat ke Pandang Panjang, sebab Engku Haji Ja'far masih sanggup membelanjai saya, apalagi demikianlah cita-cita ibuku.

4. APAKAH NAMANYA INI?

Saat yang ditakuti itu pun datanglah; dengan hati riang bercampur masygul, saya terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Riang, karena saya telah beroleh diploma dan masygul karena berpisah dengan teman-teman, artinya masa gembira, masa menghadapi zaman yang akan datang dengan penuh kepercayaan, telah habis.

Setelah guru membagikan diploma kami masing-masing, dengan bersorak kami meninggalkan pekarangan sekolah, kami bersalam-salaman satu dengan yang lain dan guru memberi kami peringatan, supaya sekolah kami diteruskan bagi siapa yang sanggup.

Anak-anak Belanda dan beberapa anak saudagar-saudagar yang mampu, dengan bangga menyatakan di hadapan teman-temannya, bahwa sekolah itu akan diteruskannya, setelah habis pakansi pelajarannya. Saya sendiri, tidaklah saya beritahu bahwa saya akan menambah pelajaran agama, karena selama ini teman-teman mengejekkan saya, mengatakan gila agama.

Yang berasa sedih amat, adalah anak-anak perempuan yang akan masuk pingitan; tamat sekolah bagi mereka artinya suatu sangkar yang telah tersedia buat seekor burung yang bebas terbang.

Zainab sendiri, sejak tamat sekolah, telah tetap dalam rumah, didatangkan baginya guru dari luar yang akan mengajarkan berbagi-bagi kepandaian yang perlu bagi anak-anak perempuan, seperti menyuji, merenda, memasak dan lain-lain. Petang hari ia menyambung pelajarannya dalam perkara agama.

Saya, tidak berapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang Panjang, melanjutkan cita-cita ibu saya karena kedermawanan Engku Haji Ja'far juga. Sekolah-sekolah agama yang di situ mudah sekali saya masuki, karena lebih dahulu saya telah mempelajari ilmu umum; saya hanya tinggal memperdalam pengertian dalam perkara agama saja, sehingga akhirnya salah seorang guru memberi pikiran, menyuruh saya mempelajari agama di luar sekolah saja sebab kepandaian saya lebih tinggi dalam hal ilmu umum daripada kawan yang lain.

Demikianlah pelajaran itu telah saya tuntut dengan sungguh-sungguh hati. Tetapi . . . Sejak semula saya pindah ke Padang Panjang, senantiasa saya merasa kesepian. Kian lama saya tinggal di negeri dingin itu, kian terasa oleh saya, bahwa saya sebagai seorang yang terpencil. Keindahan alam yang ada di sekililing kota dingin itu menghidupkan kenang-kenangan saya kepada hal-hal yang telah lalu. Merapi dengan kepundannya yang laksana disepuhi emas, panas petang yang menyinari puncak Tandikat waktu matahari akan pulang ke barat dan mempertaruhkan jabatan memberi cahaya kepada bulan, Singgang yang senantiasa diliputi kabut, dengan kebun-kebun tebunya yang beriak-riak ditiup angin semuanya membangkitkan perasaan-perasaan yang ganjil, yang sangat mengganggu perjalanan pikiran.

Saya berasa sebagai seorang yang kehilangan, padahal jika saya periksa penaruhan saya, pasti meja tulis, kain dan baju, semuanya cukup. Tetapi badan saya ringan, seakan-akan ada suatu kecukupan yang telah kurang.

Cuma saya ingat, bahwa jika dengan teman-teman sama sekolah, saya pergi melihat keindahan air mancur di Batang Anai atau mendaki Bukit Tui, atau gua batu di Sungai Andok, bilamana saya melihat keindahan ciftaan alam itu, saya ingat, alangkah senang hati Zainab jika ia turut melihat pula. Karena saya tahu betul, bahwa ia seorang anak perempuan yang dalam perasaanya; waktu sama-sama sekolah, ia suka benar mendengarkan nyanyian-nyanyian yang sedih, walaupun nyanyian Barat atau nyanyian Timur. Bilamana lalu di hadapan rumahnya seorang buta diirit air matanya. Bagaimanakah perasaanya kelak jikalau dia ada pula di tempat yang indah itu?

Senantiasa saya hitung pertukaran hari ke bulan dan dari bulan ke tahun. Bilamana pakansi puasa telah datang, gembiralah hati saya, karena akan dapat saya menghadap ibu saya, memaparkan di hadapannya, bahwa ia sudah patut gembira, karena anaknya ada harapan akan menjadi orang alim. Dapat pula bersimpuh di hadapan Engku Haji Ja'far, yang dermawan, bahwa pertolongannya ada harapan akan berhasil; bersimpuh pula di hadapan Mak Asiah, karena dengan pertolongannya juga saya telah menjadi orang baik. Kemudian dari itu akan dapat pula bertemu dengan Zainab. Akan saya nyatakan di hadapannya dengan gembira, dengan hati besar, sehingga dia akan termangu-mangu mendengarkan cerita saya, apalagi dia amat sukar dapat keluar dari lingkungan rumahnya.
>>>>

>>>>

Pakansi itu pun datanglah, segala cita-cita yang telah saya reka selama belajar, dan yang telah saya susun di jalan antara Padang Panjang dengan Padang, semuanya dapat saya jalankan; ibu titik air matanya karena kegirangan, Engku Haji Ja'far tersenyum mendengar saya mengucapkan terima kasih. Mak Asiah memuji saya sebagai anak yang berbudi. Cuma ketika berhadapan dengan Zainab dalam rumahnya, mulut saya tertutup, saya menjadi seorang bodoh pengecut.

"Kapan Abang pulang?" katanya.
"Pukul sepuluh tadi pagi, "jawab saya.
"Apa kabar? Baik?"
"Alhamdulillah . . ."

Setelah itu saya menjadi bingung, tidak tentu lagi apa yang akan saya terangkan kepadanya. Segala rancangan saya terhadap dirinya yang saya reka-rekakan tadi, semuanya hilang. Ia melihat tenang-tenang kepada saya, seakan-akan ada pembicaraan saya yang ditunggunya, tetapi kian lama saya kian gugup, sehingga sudah lalu hampir 15 menit, tidak ada di antara kami yang bercakap.

"Mudah-mudahan selamatlah, dan kerap kalilah datang ke mari kalau masih di rumah," katanya pula; lalu ia berdiri dari tempat duduknya, kembali ke pekarangan belakang, kedalam pingitannya. Saya pun berdiri, saya ambil kopiah saya, sambil menarik nafas panjang, saya pun keluar.

Dalam hati, saya teringat hendak menulis surat kepadanya, akan ganti diri saya menerangkan segala perasaan hati. Surat itu akan saya tulis dengan tulus dan ikhlas, tidak bercampur dengan kata-kata yang dapat menyinggung hati, baik perkara cinta atau perkara lainnya, apalagi surat itu tidak akan diketahui orang isinya jika ditulis dalam bahasa Belanda.Tetap, ah . . . saya tak sampai hati, sebab perbuatan itu adalah satu kelakuan sia-sia belaka. Jika perbuatan itu hanya sehingga daerah persaudaraan di antara adik dan kakak, tidaklah mengapa. Tetapi adalah saya ini seorang yang lemah, otak saya tak dapat mempengaruhi dan mengendalikan hati saya, sepandai-pandai saya mengatur dan menyusun kata, akhirnya tentu salah satu perkataan dalam surat itu terpaksa juga membawa arti lain, padahal dalam perkara yang halus-halus anak perempuan amat dalam pemeriksaannya.

Cinta itu adalah jiwa; antara cinta yang sejati dengan jiwa tak dapat dipisahkan, cinta pun merdeka sebagaimana jiwa. Ia akan tidak memperbedakan di antara derajat dan bangsa, di antara kaya dan miskin, mulia dan papa. Demikianlah jiwa seya, di luar dari kekang kerendahan saya. Saya merasa ingat kepadanya adalah kemestian hidup saya, rindu kepadanya membukakan pintu angan-angan saya menghadapi zaman yang akan datang.

Dahulu saya tiada pedulikan hal itu, tetapi setelah saya besar dan terpisah darinya, barulah saya insaf, bahwa kalau bukan di dekatnya, saya berasa kehilangan.

Mustahil dia akan dapat menerima cinta saya, karena dia langit dan saya ini bumi, bangsanya, tinggi dan saya hidup darinya tempat buat lekat hati Zainab. Jika kelak datang waktunya orang tuanya bermenantu, mustahil pula saya akan terpilih masuk dalam golongan orang yang terpilih untuk menjadi menantu Engku Haji Ja'far. Karena tidak ada yang akan dapat diharapkan dari saya. Tetapi Tuan . . . kemustahilan itulah yang kerap kali memupuk cinta.

Setelah puasa habis, saya kembali ke Padang Panjang. Sebelum berangkat saya datang ke rumahnya menemuinya, menemui ayahnya dan ibunya. Dari ayahnya saya dapat nasihat: "Belajarlah sungguh-sungguh, Hamid, mudah-mudahan engkau lekas pintar dalam perkara agama dan dapat kehendaknya saya menolong engkau sampai tamat pelajaranmu . . ."

"Insy Allah, Engku," jawa saya.

Setelah itu saya berangkat; seketika saya melengong yang penghabisan ke belakang, nyata kelihatan oleh saya Zainab berdiri di pintu tengah, melihat kepada saya. Di situ timbul pula kembali sifat saya yang pengecut; saya menghadap ke muka dan saya pun pergi . . .

5. SEPERUNTUNGAN

Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian yang sekonyong-konyong dari Engku Haji Ja'far yang dermawan itu. Ia seorang yang sangat dicintai oleh pendudu negeri, karena ketinggian budinya dan kepandaiannya dalam pergaulan; tidak ada satu pun perbuatan umum di sana yang tak dicampuri oleh Engku Haji Ja'far. Kematiannya membawa perubahan, yang bukan sedikit kepada perhubungan kami dengan rumah tangga Zainab. Dia yang telah membukakan pintu yang luas kepada saya memasuki rumahnya di zaman hidupnya, sekarang pintu itu mau tak mau telah tertutup. Sebagai seorang lain, pertemuan kami tidak lekas sebagai dahulu lagi. Ah . . . zaman semasa kanak-kanak, ia telah pergi dari kalangan kami dan takkan kembali lagi.

Belum berapa lama setelah budiman itu menutup mata, datang pula musibah baru kepada diri saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyeberangi hidup bertahun-tahun telah ditimpa sakit, sakit yang selama ini telah melemahkan badannya, yaitu penyakit dada. Kerap kali Zainab dan ibunya, datang melihat ibuku, dan duduk di dekat kalang hulunya, sedang saya duduk menjaga dengan diam dan sabar. Kerap kali pula Mak Asiah berkata, "Ah, luka yang lama belum sembuh, sekarang datang pula luka baru. Belum lama saya menjagai suami saya sakit, sekarang saya mesti melihat pula sahabat saya menanggung sakit. Mudah-mudahan ia lekas sembuh."

Waktu itu Zainab diam dalam menungnya, di hadapan ibu yang sedang sakit, kerap kali ia melihat saya dengan muka yang tenang, dan agaknya besertakan dengan nasib yang ditanggungnya sendiri. Tetapi sepatah kata pun tak keluar dari mulutnya dan saya pun melihat pula, sehingga kedua mata yang hitam, seakan-akan terbayang berulang-ulang beberapa perkataan yang penting, meskipun lidah tiada sanggup menunjukkan artinya.

Mak Asiah pergi bersama Zainab, di meja mereka letakkan sepinggan bubur yang telah didinginkan, ditutup dengan sebuah piring kecil, untuk ibu, karena dia tak kuat makan nasi. Ketika dia akan pergi, dia berkata, "Jagalah dia baik-baik, jika dia bangun kelak, berilah bubur ini barang sesendok kecil."

"Baiklah Mak," kata saya.

Pintu mereka tutupkan baik-baik dan mereka pun pergila. Setelah beberapa saat kemudian, ibuku mengembangkan matanya; di dalamnya hanya kelihatan tinggal cahaya dari kekerasan hati, padahal kekuatan telah habis.

Dicarinya saya dengan matanya yang telah kabur, tangannya yang telah tinggal jangat pamalut tulang itu mencapai-capai ke kiri ke kanan mencari tangan saya. Dengan segera saya berikan tangan kanan saya, dipegangnya erat-erat dan dibawanya ke mulutnya serta diciumnya, lama sekali; dari matanya titik air mata yang panas.

"Hamid!" katanya, rupanya kekuatannya kembali sedikit; "Ibu hendak berbicara dengan engkau, penting sekali, Nak!"

"Lebih baik ibu diam dahulu, Ibu terlalu payah."

"Tidak, Mid, kekuatan ibu dikembalikan Tuhan untuk menyampaikan pembicaraan ini kepadamu."

"Apakah yang Ibu maksudkan?"

"Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui suatu rahasia pada dirimu."

"Rahasia apa Ibu?"

"Engkau cinta pada Zainab!"

"Ah tidak Ibu, itu barang yang amat mustahil dan itulah yang sangat anakanda takuti. Anakanda tak cinta kepadanya dan takut akan cinta, anakanda belum kenal 'cinta'. Anakanda takkan memperbuat barang yang sia-sia dan percuma, anakanda tahu bahwa jika anakanda mencurahkan cinta kepadanya takkan ubahnya dengan seorang yang mencurahkan semangakuk air tawar ke dalam lautan yang mahaluas; laut takkan berubah sifatnya karena semangkuk air tawar itu."

"Wahai Anak, dari susunan katamu itu telah dapat ibu membuktikan, bahwa engkau sedang diserang penyakit cinta. Takut akan kena cinta, itulah dua sifat dari cinta; cinta itulah yang telah merupakan dirinya menjadi suatu ketakutan, iba hati dan kadang-kadang berani. Di hadapan ibumu yang telah lama merasai pahit manis kehidupan tidaklah dapat engkau sembunyikan lagi. Mataku telah kabur, tetapi hatiku masih terang benderang."

Anakku, . . . sekarang cintamu masih bersifat angan-angan, cinta itu kadang-kadang hanya menurutkan perintah hati, bukan menurutkan pendapat otak. Dia belum berbahaya sebelum mendalam. Kalau dia telah mendalam, kerap kali kalau yang kena cinta tak pandai ia merusakkan kemauan dan kekerasan hati laki-laki. Kalau engkau perturutkan tentu engkau menjadi seorang anak yang putus asa, apalagi kalau cinta itu tertolak, terpaksa ditolak oleh keadaan yang ada di sekelilingnya ..."

"Hapuskanlah perasaan itu dari hatimu, jangan ditimbul-timbulkan juga. Engkau tentu memikirkan juga, bahwa emas tak setara dengan loyang, sutra tak sebangsa dengan benang."

"Ayahnya, orang yang telah memenuhi cita-cita kita dengan nikmat, sekarang tak ada lagi, artinya telah putus tali yang memperhubungkan kita dengan rumah tangga orang di sana. Meskipun ibu Zainab seorang perempuan yang penuh dengan budi pekerti, tentu saja kebaikannya kepada kita tidak lagi sebagai di masa suaminya hidup. Apalagi kaum kerabat mereka yang bertali darah, sudah banyak yang akan turut mengatur keadaan pergaulan rumah itu, yaitu orang-orang yang baru tiada mengenal kita."
>>>>>

>>>>>

"Memang Anak, ... cinta itu 'adil sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia dalam keadilan, tidak memperbeda-bedakan di antara raja-raja dengan orang minta-minta, tiada menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang hina dengan orang mulia, bahkan kadang-kadang tiada juga berbeda baginya antara bangsa dengan bangsa. Tetapi aturan pergaulan hidup, tidak membiarkan yang demikian itu berlaku. Orang sebagai kita ini telah di cat dengan 'derajat bawah' atau 'orang kebanyakan', sedang mereka diberi nama 'cabang atas', cabang atas adakalanya karena pangkat dan adakalanya karena harta benda. Cincin emas, orang merasa sayang hendak memberi bermata kaca, tentu zamrud dan nilam juga. Orang merasa sayang membuang emas, akan pengikat batu yang sudah diasah oleh perintang-rintang hatinya, karena lama menanggung dalam penjara."

"Meskipun Zainab suka kepada engkau ... karena agaknya batinnya suci dari perasaan takbur dan mengangkat diri, tidaklah langsung kalau ibunya tak suka. Diletakkan ibunya suka, bermupakat orang itu dahulu dengan kaum kerabat, handai dan tolan. Kalau mereka tak sepakat, waktu itulah kelak engkau diserang oleh putus asa, oleh malu, dan kadang-kadang memberi melarat jiwamu. Sebab waktu api belum besar tidak engkau padamkan lebih dahulu."

"Tidak ada, yang lebih baik daripada melupakan hal itu sebelum ia mendalam. Sebab cinta kepada orang yang demikian, adalah laksana arwah ayahmu hendak kembali ke dunia, karena ia berbesar hati melihat engkau telah besar. Ia tahu dan melihat segala apa yang kejadian dalam dunia ini, dan ia ingin sekali hendak datang. Tetapi sayang ... alam dunia telah terbatas jauh sekali dengan alam barzakh ..."

Lama saya termenung mendengarkan pembicaraan ibu itu, pertama karena amat dalam penyelidikannya kepada paham hidup ini, kedua memikirkan kekuatan jiwanya yang timbul, seakan-akan ada malaikat yang memimpin dia sedang berbicara, yang tidak saya sangka-sangka akan sejelas itu. Beberapa saat antaranya saya pun menjawab: "Terima kasih, Ibu, nasihat Ibu masuk benar ke dalam hatiku, semuanya benar belaka, sebenarnya sudah lama pula anakanda merasa yang demikian, sehingga dengan hati sendiri anakanda berjanji hendak melupakannya. Yang amat ajaib ialah peperangan di antara otak dan hati. Beberapa saat dia dapat dilupakan dan hati mengikut dengan patuh apa kehendak otak. Tetapi bila kelihatan rumah tangganya, atau kelihatan rupanya sendiri, dan kadang-kadang bila namanya disebut orang, hati lupa akan perintah otak, ia kembali berdebar ia surut kepada kenang-kenangannya yang lama. Ini yang kerap kali mengalahkan anakanda."

"Ah Anakku, pandai benar engkau mewartakan nasibmu kepada ibumu! Mengapa engkau segila itu benar, padahal agaknya engkau belum mengetahui bagaimana pula perasaan Zainab kepada dirimu?"

"Wahai Ibu, coba anakanda tahu bahwa cintaku mendapat sambutan dengan semestinya, agaknya tidaklah akan separah benar luka hatiku. Karena cinta yang dibalas itulah obat yang paling mujarab bagi seorang anak muda dalam hidupnya, takkan lebih pintanya daripada itu. Hati anakanda akan besar dan merasa beruntung, jika anakanda ketahui bahwa air mata anakanda yang selama ini telah banyak tercurah, tidak bagai air yang tenggelam di pasir, bahwa pengharapan dalam menuju hidup tak terhambat di tengah jalan; bahwa cita-cita hendak memandangi langit tidak dihalangi oleh awan. Cinta anakanda kepadanya, bukan mencintai tubuhnya dan bentuk badannya, tetapi jiwa anakandalah yang mencintai jiwanya. Kecintaan anakanda bukan pula karena kepandaian menyusun surat-surat kiriman. Kebebasan pergaulan bisa ditutupi dengan perangai yang dibuat-buat dan kepintaran mengarang surat dapat pula menyembunyikan kepalsuan hati. Anakanda mencintai Zainab karena budinya; di dalam matanya ada terkandung lukisan hati yang suci dan bersih."

"Anakku, sudah tinggi fikiranmu rupanya, sudah dapat engkau menerangkan perasaan hati dengan perkataan yang cukup, sudah menurun kepada dirimu kelebihan ayahmu. Ibu tak dapat menyambung perkataan lagi, ... perkataanmu hanya ibu sambut dengan air mata. Hanya kepada Tuhan ibu berharap, mudaha-mudahan Dia memberikan anugerah dan perlindungan akan dirimu. Dia yang telah menanamkan perasaan itu ke dalam hatimu, Dia pula yang berkuasa mencabutnya. Mudah-mudahan itu hanya suatu khayal, suatu angan-angan yang kerap kali mempengaruhi hati anak muda-muda, yang dapat hilang karena pergantian siang dan pertukaran malam."

"mudah-mudahan," jawab saya.

Demikianlah nasihatnya kepada saya, setelah itu kekuatannya tak ada lagi. Dari saat ke saat, hanya yang kelihatan kepayahannya menyelesaikan napas yang turun naik, kadang-kadang dilihatnya saya tenang-tenang dan dingangakannya mulutnya sedikit minta minum. Obat-obat tak memberi faedah lagi. Tidak beberapa malam setelah dia memberikan nasihat itu, datanglah masa yang ditunggu-tunggunya, masa berpindah dari alam yang sempit kepada alam yang lapang. Sementara saya asyik meminumkan obat, di tangan kanan saya terpegang sendok dan di tangan kiri terpegang gelas, ia melihat kepada saya tenang-tenang, alamat perpisahan yang akhir. Dari mulutnya keluar kalimat baka, bersama dengan kepergian nyawanya ke dalam alam suci, yang di sana manusia lepas dari segala penyakit.
>>>>>

>>>>>

Saya tercengang dan seakan-akan bingung, di tangan kanan saya sendok masih terpegang, di tangan kiri gelas berisi obat; saya lihat ke atas meja, di sana terletak beberapa botol yang telah kosong dan ramuan dukun yang telah layu, limau manis yang diantarkan Zainab pagi hari itu baru diusakinya seulas, lebihnya masih tinggal terletak di atas meja. Waktu itulah baru saya insaf, bahwa itu bukanlah perkara sendok dan gelas, bukan perkara obat dan ramuan, tetapi perkara ajal semata-mata ...

Sekarang saya sudah tinggal sebatang kara dalam dunia ini!

6. TEGAK DAN RUNTUH

Telah lalu kejadian itu dan dia telah memberi bekas pula ke dalam jiwa saya; rupa-rupanya kedukaan dan cobaan mesti diturunkan kepada manusia secukup-cukupnya dan sepuas-puasnya.

Semenjak kematian itu tidak berapa kerap kali saya datang kerumahnya, saya karam dalam permenungan, memikirkan hidup saya di belakang hari, sebatang kara di dunia ini.

Pada suatu petang, sedang matahari akan tenggelam ke dasar lautan di Batang Arau, di antara ujung Gunung Padang di celah-celah ombak yang memecah ke atas pasir yang putih di Pulau Pandan, di waktu saya sedang berjalan-jalan seorang diri di pesisir Arau yang indah itu, melihat perahu tumpangan datang dari seberang, di atasnya duduk tiga orang perempuan yang agak tua berundung-undung kain Bugis halus. Setelah perahu kecil itu merapat, keluarlah dari dalamnya perempuan-perempuan itu, seorang di antaranya ialah Mak Asiah sendiri. Ia lekas melihat saya.

"Oh, engkau Hamid? Mengapa di sini?" katanya.

"Berjalan-jalan Mak," jawabku; "dan Mak dari mana?"

"Dari menziarahi kubur bapakmu ... mengapa engkau tak datang-datang ke rumah semenjak ibumu meninggal? Karena Engku Haji Ja'far tak ada lagi, akan engkau alang saja datang ke rumah?"

"Tidak Mak, cuma kematian yang bertimpa-timpa itu agaknya mendukakan hatiku, itulah sebab saya kurang benar keluar rumah."

"Tidak boleh begitu, Hamid; sebenarnya engkaulah yang mesti menyabarkan hati kami. Besok engkau mesti datang ke rumah, ibu tunggu kedatanganmu, banyak yang perlu kita bicarakan."

"Baiklah, Mak!"
"Saya tunggu, ya?"
"Baik, Mak!"

Setelah itu ia pun pergi; di tengah jalan, sebelum mereka naik sado, rupa-rupanya pembicaraan mereka terhadap kepada diri saya saja. Karena tak berapa langkah jauhnya, perempuan-perempuan tua yang lain menoleh kepada saya sebagai rupa orang menunjukkan kasihan.

Besoknya janji itu pun saya tepati.

Wahai Tuan, hari itulah masa yang tak dapat saya lupakan!

Saya datang ke rumah itu, rumah tempat saya bersenda gurau dengan Zainab di waktu kecil. Rumah itu seakan-akan kehilangan semangat dan memang kehilangan semangat, karena bekas-bekas kematian masih kelihatan nyata. Pintu luar terbuka sedikit dan saya ketuk daunnya yang menghadap ke dalam; pintu terbuka ... Zainab yang membukakan.

Abang Hamid!" katanya.

Waktu itu kelihatan nyata oleh saya mukanya merah, nampak sangat gembiranya melihat kedatangan saya. Baru sekali itu dan baru sesaat itu selama hidup saya melihat mukanya demikian, yang tak bisa saya gambarkan dan tuturkan dengan susunan kata, pendeknya wajah yang memberi saya pengharapan penuh.

"Bang Hamid!" katanya menyambung perkataanya.

"Sudah lama benar Abang tak datang ke mari, lupa Abang agaknya kepada kami!"

Gugup saya hendak menjawab; saya pintar mengarang khayal dan angan-angan, tetapi bila sampai di hadapannya saya menjadi seorang yang bodoh.

"Tidak. Zainab," jawabku dengan gugup; "Tapi ... bukankah kita sama-sama kematian?"

Seketika itu mukanya kembali ditekurkannya menghadap kakinya, tangannya berpegang ke pinggir pintu, rambutnya yang halus menutupi sebagian keningnya dan sepatah kata pun dia tak berbicara lagi.

"Zainab," ... kataku pula. "sebentar tidaklah saya ... pernah lupa hendak datang kemari, barangkali engkaulah ... agaknya yang ... lupa kepadaku."

Mendengar itu ia bertambah menekur, tak berani dia rupanya mengangkat rupanya lagi, dan saya pun gugup pula hendak menambah perkataan. Memang bodoh saya ini, dan pengecut!

Tiba-tiba dalam saya menyediakan perkataan yang akan saya katakan pula dan dalam sedang merenungi kecantikan Zainab, kedengaranlah dari halaman bunyi telapak kaki Mak Asiah menginjak batu; Zainab mengangakat mukanya seraya berkata, "Itu Ibu datang."

Saya masih dalam kebingungan, Zainab lalu ke hadapan saya menyambut kedatangan ibunya. Ketika sampai ke beranda dia berkata, "Ini Bang Hamid telah datang."

Mak Asiah masuk dengan gembira, seraya berkata, "sudah lama, Mid?"

"Baru sebentar ini, Mak" jawabku.

Saya disuruhnya duduk, Zainab dengan segera pergi ke belakang memasak kopi sebagaimana kebiasaannya.

"Hampir mamak terlalai dari janji kita. Tadi mamak pergi ke rumah orang sebelah, karena tidak lama lagi dia akan mengawinkan anaknya; dari sekarang sedang bersiap-siap menyediakan yang perlu, maklumlah tetangga perlu bantu-membantu."

saya dengarkan perkataannya, tetapi, pikiran saya masih tetap ingat kepada kejadian tadi. Pikiran saya menjalar ke mana-mana, memikir-mikirkan tekur Zainab dan mukanya yang merah ketika mula-mula melihat saya; hanya suatu kejadian yang tiba-tibakah itu, atau adakah dia merasai sebagai yang saya rasai? Dalam pada itu Mak Asiah masih tetap membicarakan beberapa perkara, menyebut-nyebut jasa suaminya, menyebut kebaikan ibuku. Akhirnya sampailah pembicaraan kepada Zainab.

"Bagaimanakah pikiranmu, Hamid, tentang adikmu Zainab ini?"
>>>>>>

>>>>>>

Darahku berdebar, detik-detik jantungku berhenti.

"Apakah yang Mamak maksudkan?" tanya saya.

"Segala kaum kerabat di darat telah bermufakat dengan mamak hendak mempertalikan Zainab dengan seorang kemenakan almarhum bapakmu, yang ada di darat itu. Dia sekarang sedang bersekolah di Jawa. Maksud mereka dengan perkawinan itu supaya harta benda almarhum bapaknya dapa dijagai oleh kaum keluarga sendiri, oleh kemenakannya, sebab tidak ada saudara Zainab yang lain, dia anak tunggal. Pertunangan itu telah disepakati oleh yang patut-patut; jika tak ada aral melintang, bulan di muka ini hendak dipertunangkan saja dahulu, nanti di mana tamat sekolahnya akan dilangsungkan saja perkawinan. Katanya tanah pekuburan ayahnya masih merah, air matanya belum kering lagi. Itulah sebabnya engkau mamak suruh ke mari, akan mamak lawan berunding. Mamak masih ingat pertalian dengan Zainab, masa engkau masih kecil dan masa sekolah; engkau banyak mengetahui tabiatnya, apalagi engkau tak dipandangnya orang lain lagi; sukakah engkau, Hamid menolong mamak?"

Lama saya termenung ...

"Mengapa engkau termenung, Hamid? Dapatkah engkau menolong mamak, melunakkan hatinya dan membujuk dia supaya mau? Hamid! ... Mamak percaya kepadamu sepenuh-penuhnya, sebagai mendiang bapakmu percaya kepada engkau!"

"Apakah yang akan dapat saya tolong Mak? Saya seorang yang lemah. Sedangkan ibunya sendiri tak dapat mematuh dan melunakkan hatinya, kononlah saya orang lain, anak semangnya."

"Jangan berbicara begitu, Hamid, engkau tidak mamak pandang orang lain lagi, almarhum telah memasukkan engkau ke dalam golongan kami, walaupun beragih, tetapi tak bercerai. Maka di atas namanya hari ini, di atas nama Haji Ja'far, mamak meminta tolong melunakkan hati adikmu."

"O, itu namanya perintah, saya kabulkan permintaan Mamak."

Mukanya kelihatan gembira, meskipun dia tak sempat memperhatikan bagaimana perubahan muka saya yang telah muram. Sebentar sesudah itu Zainab datang membawa tiga cangkir kopi dan beberapa piring kue-kue. Ibunya melihat kepadanya dengan kasih dan mesra, karena di diri anaknya itulah tergantung harapannya yang penghabisan.

"Duduk, Nab, Bang Hamidmu hendak berkata sepatah dua dengan engkau."

Saya masih agak bingung dan Zainab telah duduk ke dekat ibunya dengan wajah agak kemalu-maluan.

Beberapa menit lamanya hening saja dalam ruangan itu, tak seorang jua di antara kami yang berkata-kata; ibunya seakan-akan menunggu supaya perkataan itu lekas dimulai, Zainab kelihatan agak gugup, tak mau melihat muka saya, sedang saya masih termenung memikirkan dari manakah pembicaraan itu akan saya mulai."

"Bicarakanlah, Hamid, banyak amat tempo terbuang," kata ibunya dengan tiba-tiba.

Sulit sekali memulai pembicaraan itu, sulgt menyuruh seseorang mengerjakan suatu pekerjaan yang berat hatinya melakukan, pekerjaan yang berlawanan dengan kehendak hatinya sendiri. Tetapi dibalik itu, sebagai seorang anak muda yang telah dicurahi orang kepercayaan dengan sepenuh-penuhnya, akhirnya hati saya dapat juga saya bulatkan dan saya mulailah berkata:

"Begini Zainab, ... sudah lama ayah meninggal, semenjak itu lenganglah rumah ini, tiada seorang pembantu pun yang akan dapat menjaganya. Selain dari itu, menurut aturan hidup di dunia, seorang gadis perlulah mengikut perintah dan kehendak orang tuanya, terutama kita orang Timur ini. Buat menunjukkan setia dan hormatnya kepada orang tuanya ia perlu menekankan segala perasaan hati sendiri. Dia hanya mesti ingat sebuah saja, yaitu mempergunakan diri baik murah atau mahal, untuk berkhidmat kepada orang tua."

"Sekarang, karena memikirkan kemuslihatan rumah tangga dan memikirkan hati ibumu, padahal hanya dia sendiri lagi yang dapat engkau khidmati, ia berkehendak supaya engkau mau dipersuamikan ... dipersuamikan dengan ... kemenakan ayahmu.

Seakan-akan terlepas dari suatu bebae yang mahaberat saya rasanya, setelah selesai perkataan yang sulit itu. Selama saya berbicara Zainab masih tetap menekur ke meja, tangannya mempermainkan sebuah puntung korek api, diremas-remasnya dan dipatah-patahnya, beluam sebuah juga perkataan keluar dari mulutnya. Setelah kira-kira lima menit lamanya, barulah mukanya diangkatnya, air matanya kelihatan menggelenggang, mengalir setitik dua titik ke pipinya yang halus montok itu.

"Bagaimana, Zainab, jawablah perkataanku!"

"Belum Abang, saya belum hendak kawin."

"Atas nama ibu, atas nama almarhum ayahmu."

"Belum, Abang! Sampai hati Abang memaksa aku?"

"Abang tidak memaksa engkau, Adik, ingatlah ibumu."

Mendengar itu dia kembali terdiam, ibunya terdiam, ia telah menangis pula. Karam rasanya bumi ini saya pijakkan, gelap tujuan yang akan saya tempuh. Dua kejadian yang hebat telah membayang dalam kehidupan saya sehari itu, tak ubahnya dengan seorang yang bermimpi mendapat sebutir mutiara di tepi lautan besar, sebelum mutiara itu dapat dibawa pulang, tiba-tiba sudah tersadar; meskipun mata dipaksa tidur kembali, mimpi yang tadi telah tinggal mimpi, ia telah tamat sehingga itu, tidak ada sambungannya lagi.
>>>>>>

>>>>>>

Selama ini saya masih ragu, adakah Zainab membalas cinta saya; pertemuan saya dengan dia itu memberikan pengharapan sedikit pada saya, tetapi sebelum pengharapan itu dapat saya yakini, tibalah penyerahan ibunya yang berat itu.

Hanya hingga itu yang dapat saya ceritakan kepada Tuan apa yang terjadi sehari itu. Di jalan pulang saya rasakan badan saya sebagai bayang-bayang, tanah serasa bergoyang saya pijakkan.

7. BERJALAN JAUH

Dua kejadian yang berjuang pada hari itu, cukuplah untuk menentukan tujuan nasib saya; nikmat hati hanya lalu sebagai khayal belaka. Setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi. Kepada Tuhan dapatlah saya mengantarkan suatu pengorbanan untuk seorang perempuan yang lemah, saya menolongnya, membujuk hati anaknya yang keras.

Untuk itu perasaan hati sendiri telah saya tekankan; sungguh besar sekali korban yang saya berikan.

Memang, kalau diukur dengan pikiran, saya ini hanya pantas menjadi saudara Zainab, menjadi pembelanya, tetapi cinta mempunyai suatu lapangan yang lebih luar daripada ukuran pikiran itu. Itulah yang senantiasa tertulis dalam hati, yang sukar dilupakan selama-lamanya. Ada suatu penjawaban yang tergantung, yang belum sempat saya dengar dari mulut Zainab, dan keras persangkaan saya akan diberinya pada hari itu; itulah senantiasa yang menjadi penyakit pada saya, tetapi menjadi obat juga.

Kemudian saya insaf, bahwa alam ini penuh dengan kekayaan. Allah menunjukkan kekuasaannya. Tidaklah adil jika semua makhluk dijadikan dalam tertawa, yang akan menangiskan mesti ada pula. Kita mesti mengukur perjalanan alam dengan ukuran yang luas, bukan dengan nasib sendiri.

Bukankah patut saya bersyukur dan berterimakasih, sebab seorang perempuan tua telah dapat saya tolong, saya patahkan hati anaknya yang hanya satu, tempat menumpahkan segala pengharapannya. Kalau kelak terjadi perkawinan Zainab dengan kemenakan ayahnya dan mereka hidup beruntung, sehingga Mak Asiah waktu menutup mata tidak merasa bahwa dia masih ada utang-piutang dengan anaknya bukan saya yang telah mengusahakan.

Memang, mula-mula hati itu mesti berguncang; bukankah lonceng-lonceng di rumah juga berbunyi keras dan berdengung jika kena pukul? Tetapi akirnya, dari sedikit ke sedikit, dengung itu akan berhenti jua. Cuma saja saya mesti berikhtiar supaya luka-luka yang hebat itu jangan mendalam kembali. Saya mesti berusaha, supaya berangsur sembuh. Untuk itu saya mengambil keputusan, saya mesti meninggalkan kota Padang, terpaksa tak melihat wajah Zainab lagi, saya berjalan jauh.

Setelah saya siapkan segala yang perlu dan rumah tangga saya pertaruhkan kepada salah seorang handai yang setia, dengan tak seorang pun yang mengetahui, saya berangkat meninggalkan kota Padang, kota yang permai dan sangat cinta itu, dengan menekankan dan membunuh segala perasaan yang senantiasa mengharu hati. Saya tumpangi oto yang akan berangkat ke Siantar.

Di kiri kanan saya banyak penumpang lain yang akan menuju kota Medan. Setelah saya sampai ke Medan saya buat surat kepada Zainab, sesudah hati saya, saya beranikan: itulah surat saya yang pertama kali kepadanya. Jika kelak ternyata dia tak cinta kepada saya, syukur, sebab saya tak melihat mukanya yang kesal membaca surat itu. Tetapi kalau ia nyata ada mempunyai perasaan sebagai yang saya rasai dan surat itu diterimanya dengan sepertinya, tentu sekurang-kurangnya saya akan menerima belas kasihnya, sebagai seorang melarat yang diarak untung perasaian.

Demikian bunyi surat itu, masih hafal oleh saya:

Adik Zainab!
Menyesal sekali, karena sebelum berangkat tak sempat saya bertemu muka dengan Adinda lebih dahulu. Maafkanlah Adik, karena amat banyak alangan yang menyebabkan saya tak sempat datang seketika itu, alangan yang tidak dapat saya sebutkan.

Barangkali agak sedikit, tentu Adik bertanya juga dalam hati, apa gerangan sebabnya Abang Hamid berangkat dengan tiba-tiba. Biarlah hal itu menjadi soal buat sementara waktu, lama-lama tentu akan hilang juga dengan sendirinya.

Banyak hal-hal yang akan saya terangkan dalam surat ini tetapi tak sanggup saya melukiskan.

Hanya dengan surat ini saya bermohon sangat supaya Adik menuruti segala cita-cita ibu. Jika kelak maksud keluarga sampai dan adik bersuami, berikan kepadanya kesetiaan yang penuh.

Akan hal diri saya ini, ingatlah sebagai mengingat seorang yang telah pernah bertemu dalam peri penghidupanmu, seorang sahabat dan boleh juga disebut saudara yang ikhlas dan saya sendiri akan memandang engkau tetap sebagai adikku.

Jika pergaulanmu kelak dengan suamimu berjalan dengan gembira dan beruntung, sampaikanlah salam abang kepadanya. Katakan bahwa di suatu negeri yang jauh, yang tak tentu tanahnya ada sahabat yang senantiasa ingat akan kita. Dan biarlah Allah memberi perlindungan atas kita semuanya.
Wassalam abangmu
Hamid

Demikianlah bunyi surat yang saya kirimkan.
>>>>>>>

>>>>>>>

Tiada lama saya di Medan, saya menuju singapura, mengembara ke Bangkok, berlayar terus memasuki tanah-tanah Hindustan, dan dari Karachi berlayar menuju ke Basrah, masuk ke Irak, melalui Sahara Nejd dan akhirnya sampailah saya ke Tanah Suci ini.

Sekarang sudah Tuan lihat, saya telah ada di sini, di bawah lindungan Ka'bah yang suci, terpisah dari pergaulan manusia yang lain. Di sinilah saya selalu tepekur dan bermohon kepada Tuhan serwa sekalian alam, supaya ia memberi saya kesabaran dan keteguhan hati menghadapi kehidupan. Setiap malam saya duduk beriktikaf di dalam Masjidil Haram, do'a saya telah berangkat ke langit hijau membumbung ke dalam alam gaib bersama-sama permohonan segala makhluk yang makbul.

Segala peringatan kepada zaman yang lama-lama, dari sedikit-ke sedikit berangsur-angsur lupa juga. Cuma sekali-kali ia terlintas di pikiran, ketika itu saya menarik nafas panjang, karena biarpun luka sembuh dengan kunjung, bekasnya mesti ada juga. Tetapi hilang pula dia dengan segera, bila saya bawa tawaf sai atau saya bawa bertekun di dalam mesjid tengah malam. Sudah hampir datang tuma'ninah (ketetapan) ke dalam hati saya dan menurut persangkaan saya mula-mula, tamatlah cerita ini sehingga itu.

8. BERITA DARI KAMPUNG

Telah setahun saya di sini dan waktu mengerjakan haji telah datang. Tuan sendiri yang mula-mula saya kenal semenjak datang orang-orang yang akan mengerjakan haji dari Tanah Air kita. Kemudian sebagai tuan maklum, datang pula saudara kita Saleh. Saleh adalah seorang teman saya semasa kami masih sama-sama bersekolah agama di Padang Panjang. Oleh karena sekolahnya di Padang telah tamat, dia hendak meneruskan pelajarannya ke Mesir, ia singgah ke Mekah ini untuk mencukupkan rukun. Sekarang ia berangkat ke Madinah, supaya sehabis haji dapat ia menumpang kapal yang membawa orang ke Mesir pulang kembali, yang sewanya lebih murah daripada kapal-kapal lain.

Dengan kebetulan sekali, dia telah memilih syekh kita menjadi tempatnya menumpang, sehingga sahabat lama itu bertemu kembali, setelah kami bercerai selama itu.

Wahai Tuan, ... kedatangannya telah menghidupkan ingatan saya kembali kepada yang lama-lama. Dia menceritakan kepadaku, bahwa dia telah beristri dan istrinya telah sudi melepaskan dia berlayar sejauh itu, pada hal mereka baru kawin. Dipujinya istrinya sebagai seorang perempuan yang setia yang teguh hati melepas suaminya berjalan jauh, karena untuk menambah pengetahuannya. Setelah beberapa hari dia datang, dibawanya saya ke Ma'ala; di atas sebuah bangku di halaman gahwa ia membicarakan suatu hal yang sangat menggerakkan pikiran saya.

Sambil meminum syahi (teh) Arab yang panas dan enak, dia memulai bicara:

"Hamid! Tempo hari sudah saya katakan, bahwa saya telah beristri. Istri saya itu ialah Rosna, ... ingatkah engkau akan Rosna, sahabat Zainab?"

Saya pucat mendengar nama Zainab disebutnya. Karena sudah lama benar, saya tiada mendengar nama itu disebut orang, kecuali saya sendiri. Perubahan muka saya itu dilihat oleh Saleh sambil tersenyum urung.

"Kerap kali istriku dimintanya datang ke rumahnya," katanya meneruskan pembicaraannya. "karena perhubungan persahabatan mereka itu yang karib, rupanya Zainab telah sudi membukakan rahasia-rahasia yang sulit kepada istri saya. Yang paling hebat, ialah seketika pada suatu hari istri saya datang ke rumahnya, didapatnya Zainab sedang merenungi sebuah album, di dekat album itu terkembang sehelai surat kecil yang telah lusuh dan lunak, karena kerap kali dibaca dan dibuka lipatannya.

"Setelah adinda kelihatannya," kata istriku, "album itu ditutupnya dengan segera dan surat itu disimpannya baik-baik ke dalam laci mejanya, setelah itu dia melihat kepada adinda dengan tenang, wajahnya muram, matanya berbekas tangis dan dia menarik nafas panjang."

Tiada tahan rupanya hati istriku melihat kejadian itu, maklumlah kaum perempuan itu seperasaan, lalu ia berkata, "Zainab! ... Mengapa engkau menangis pula. Sahabat? Tidaklah di rumah yang sepermai ini sarang orang yang berdukacita.

Di rumah yang indah-indah dan gedung yang permai-permai yang kirh kanannya di kelilingi oleh kebun-kebun yang subur, cukup dengan orang-orang gajian yang setia, tiadalah patut terdapat orang yang mengalirkan air mata. Di sana tidaklah ada kesedihan dan kedukaan."

Zainab menjawab, "Salah sekali persangkaanmu, Sahabat! Bahwasanya air mata tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh, tidak pula memilih waktu untuk turun. Air mata adalah kepunyaan berserikat, dipunyai oleh orang melarat yang tinggal di dangau-dangau yang buruk, oleh tukang sabit rumput yang masuk ke padang yang luas dan ke tebing yang curam, dan juga oleh penghuni gedung-gedung yang permai dan istana-istana yang indah. Bahkan di situ lebih banyak orang menelan ratap dan memulas tangis. Luka jiwa yang mereka idapkan, dilingkung oleh tembok dinding yang tebal dan tinggi, sehingga yang kelihatan oleh orang luar atau mereka ketahui hanya senyumnya saja, padahal senyum itu penuh dengan kepahitan.

Kesedihan orang lain lebih merdeka dan lebih luas, dapat dia menerangkan pahamnya yang terumbuk kepada alam sekelilingnya, dapat pula mereka melupakan dan menghilangkan. Tetapi di rumah tangga yang sebagai ini, kedukaan akan dirasakan sendiri, air mata akan di cucurkan seorang, rumah dan gedung menjadi kuburan kesedihan yang tiada berujung."

Air mata Zainab kembali jatuh.

"Mengapa engkau menangis juga, sahabatku? Kesedihan apakah yang engkau tangguhkan? Teringatkah engkau kepada ayahmu? Kalau demikian engkau salah, Zainab! Lupa engkau agaknya, bahwa kedukaan itu timbul diapit oleh dua rumpun kesukaan."

"Bukan demikian, Sahabat," jawabnya. "Buat diriku sendiri, Tuhan telah mentakdirkan berlain dari orang. Kedukaan tumbuh di antara dua rumpun kedukaan pula. Dahulu saya telah berduka, sekarang berdukacita, dan kelak agaknya akan terus berluka hati."

>>>>>>>>

"Engkau menyesali nasib, Zainab!"

"Menyesali nasib saya tidak, menyedar untung saya bukan. Melainkan yang sebetulnya yang saya katakan."

"Zainab ... kalau tidak akan memberi bahaya benar, nyatakan apalah kepadaku, apa yang menjadi sebab duka-citamu sebesar itu benar karena sudah agak lama saya melihat mukamu muram, sehingga air mata saya sendiri berserikat, tercurah untuk kesedihanmu, padahal, saya tak tahu apa yang engkau tangiskan! Terangkanlah padaku, Sahabat! Saya akan meratap menuruti ratapmu, karena engkau dan untuk engkau, biarlah air mataku kering, karena tidak ada kepandaian kaum perempuan selain dari menangis."

Laksana seorang anak yang mohon dikasihani, dipeluknya Rosna. Seketika lamanya kedua sahabat itu berpelukan-pelukan, bertangis-tangisan, tidak berkata-kata.

"Sudahlah, Zainab, ditimpa oleh penyakit lain. Ceritakanlah kepada saya hal yang engkau rahasiakan itu, mudah-mudahan karena sudah ada tempat menerangkannya tanggungan itu bisa ringan sedikit, sebab beban untuk sendiri sudah dibagi dua."

9. HARAPAN DALAM PENGHIDUPAN

Mula-mula Zainab termenung, setelah beberapa saat lamanya iapun berkata:

"Ingatkah engkau, Ros, bahwa dahulu ada tinggal di dekat rumahku ini seorang anak muda bernama Hamid?"

"Masakan saya tak ingat, anak muda yang baik budi dan beroleh pertolongan dari almarhum ayahmu itu."

"Ah, Ros, saya amat kasihan kepada orang muda itu. Dia seorang muda yang cukup miskin mendapat bantuan dari ayahku. Semasa usianya empat tahun ia telah yatim. Ayahku yang membantunya, dan seketika sekolahnya akan lanjut, ayahku meninggal pula, kemudian meninggal ibunya. Rupanya karena ia senantiasa dirundung malang, sangatlah dukatcita hatinya, sehingga ia telah menghilangkan diri entah kemana perginya, berbulan-bulan sampai sekarang, kabar tidak berita pun tidak. Budinya baik sekali, pekertinya tinggi dan mulia; memang dalam kalangan orang-orang yang dirundung malang itu kerapkali timbul budi pekerti yang mulia, timbul dengan baik dan suburnya, bukan karena latihan tangan manusia.

Bertahun-tahun kami hidup laksana beradik berkakak; maka pada dirinya saya dapati beberapa sifat yang tinggi dan terpuji, yang agaknya tidak ada pada pemuda-pemuda yang lain, baik dalam kalangan bangsawan atau hartawan sekalipun. Sampai kepada saat yang paling akhir dari pada kehidupan ayahku, belum pernah ia menunjukkan suatu perangai yang patut dicela, sehingga ibu bapakku sangat memuji akan dia. Ia tahu benar akan kewajibannya.

Wahai Ros, saya tertarik benar kepadanya dan kepada tabiatnya. Ia suka sekali bersunyi-sunyi, memisahkan diri pada pergaulan ramai, laksana seorang pendeta pertapa yang benci akan dunia leta ini. Kerap kali ia pergi bermenung ke tepi pantai Samudra Hindia yang luas itu, memperhatikan pergulatan ombak dan gelombang, seakan-akan pikirannya telah terpaku kepada keindahan alam ini. Bila ia pulang ke rumah ibunya yang dicintainya, ia menunjukkan khidmatnya dengan sepertinya. Bila ia bertemu dengan saya, buah tuturnya tiada keluar dari lingkar kesopanan, tahu ia menenggang hati dan menjaga kata.

Sebagai kau tahu, kita pun tamat dari sekolah, maka adat istiadat telah mendinding pertemuan kita dengan laki-laki yang bukan mahram, bukan saudara atau famili karib, waktu itulah saya merasai kesepian yang sangat. Saya merasa kehilangan seorang teman yang sangat saya takjubi. Keadaan memisahkan saya dengan dia, tiada dapat lagi saya mendengarkan buah tuturnya yang lembut-lembut. Waktu itulah saya insaf, bahwa saya sudah ditimpa oleh suatu perasaan ganjil, saya merasa lengang dan sunyi, ingatan saya sebentar-sebentar kembali kepada Hamid saja.

Engkau kan tahu Ros, bahwa Hamid tidak begitu gagah, tidak sepantas dan selagak pemuda lain, tetapi hati kecilk amat kasihan kepadanya, agaknya hidupnya yang sederhana itulah yang telah memaut hati sanubariku. Saya amat iba kepadanya, karena saya merasa bahwa tak ada orang lain yang akan mengibai dirinya. Heran Ros, saya telah karam di dalam khayal, di dalam angan-angan.

Kadang-kadang saya singkirkan dia dari pikiran, karena timbul takburku memikirkan derajatku, saya rasai ketinggian dan kemuliaan diriku, lebih daripada derajat kedudukan Hamid dan saya takut akan terjatuh kedalam jurang cinta, tetapi orang mengabarkan bahwa takut itu pun setengah daripada rupa cinta juga.

Maka di antara awan yang gelap gulita dan angin badai yang berhembus semenjak pertengahan malam, tiba-tiba cahaya fajar pun naiklah. Itulah fajar kenang-kenangan dan pengharapan, daripada cinta dan rindu dendam. Sebenarnya Ros ... saya cinta kepada Hamid! Biar engkau tertawakan daku, Sahabat, biar mulutmu tersenyum simpul, saya akan tetap berkata, bahwa saya cinta kepada Hamid. Ia tidak berpembela, tidak ada orang yang akan sudi menyerahkan diri menjadi istrinya karena dia miskin. Tidak ada gadis yang akan sudi memperdulikan dia, karena rupanya tak gagah. Itulah sebabnya dia saya cintai. Hartaku ada sedikit, cukup untuk membantu cita-citanya, karena saya lihat dia bisa menjadi seorang ahli seni jika ada yang membantu. Buat saya dialah yang paling pantas dan cakap, meskipun bagi orang lain agaknya tidak. Saya leluasa melihatinya lalu lintas di halaman rumah, meskipun dia tak melihat saya. Jika sekali-kali dia datang mengunjungi ibuku, aku dengarkan perkataannya yang penuh dengan ilmu dan pengetahuan itu baik-baik.

Pada suatu hari, hari yang tiada dapat saya lupakan, ia datang ke rumah ini menemui ibu. Ketika itu ibu tiada di rumah. Tiba-tiba saya bertemu muka dengan dia. Rupanya ada perkataan yang hendak dikatakannya, mulutnya masih gugup dan tak lancar, rasa-rasa terdengar olehku suaranya sekarang: "Zainab, sebenarnya tidaklah saya pernah lupa hendak datang kemari, barangkali engkaulah agaknya yang lupa kepadaku."
>>>>>>>>>

>>>>>>>>>

Alangkah nikmatnya rasa hatiku mendengar perkataannya itu. Tetapi sebelum saya sempat menyusun kata untuk menjawab, ibu datang, perkataan kami terhenti sehingga itu. Badanku ketika itu serasa bayang-bayang, perkataannya menjadi teka-teki bagi hatiku, adakah tutur katanya itu dari rasa pertalian adik dan kakak saja atau dari pada kesucian cinta?

Di dalam pikiran saya terpaksa kepada soal itu, tiba-tiba pada saat itu juga datang suatu kejadian yang menghancur-luluhkan angan-angan saya. Ia diminta oleh ibuku melembutkan hati saya, supaya saya sudi bersuami. Ia menjatuhkan perintah dan hukuman kepada diriku, supaya saya dipunyai oleh orang lain. Tetapi nyata olehku bahwa dia menjatuhkan perintah itu dengan gugup, keringat mengalir di keningnya, seakan-akan ia mengerjakan suatu pekerjaan yang amat berlawanan dengan hatinya.

Setelah saya menyatakan tak sanggup menuruti permintaannya itu, ia menarik nafas panjang dan bermenung. Ia pulang ke rumahnya, dan semenjak itu dia tak datang-datang lagi. Akhirnya saya mendengar kabar, bahwa dia telah pergi, telah berjalan jauh dengan tiba-tiba, tidak diberitahu sahabat-sahabatnya yang paling akrab, dia telah meninggalkan saya dengan gelombang angan-angan, akan menempuh suatu tujuan yang masih gelap. Setelah kira-kira sebulan dia hilang, tiba-tiba datanglah suratnya dari Medan, mengucapkan 'selamat tinggal'. Inilah surat itu. Rosna. Inilah dia, bacalah! Isinya sangat menusuk hati.

Surat itu saya pandang laksana sehelai azimat untuk penawar luka hatiku, telah kuning dan telah lusuh. Adakah akan masih panjang umurnya, sehingga kelak ia mendapati zaman pertemuan saya dengan Hamid?

Semenjak itu, entah dia di lautan entah di daratan, berita tak sampai-sampai lagi, kian lama dia hilang, kian berdiri dia dalam ingatanku. Kadang-kadang saya menjadi seorang yang putus pengharapan, hatiku kerap berkata, bahwa saya takkan bertemu lagi dengan dia.

Melihat keadaanku yang demikian, rupanya ibuku pun kasihan, perhitungan hendak mengawinkan aku tiada menjadi pembicaraan lagi. Syukurlah kemanakan ayahku seorang yang bepengetuhuan tinggi; ketika dia singgah ke mari dengan terus terang saya katakan, bahwa dia lebih baik menjadi saudaraku daripada menjadi suamiku, ia menerima dengan hati yang suci.

Senantiasa dia saya ratapi, masih hidupkah dia atau telah mati. Tiap-tiap saya baca suratnya, tiap-tiap terbuka di dalam tiap-tiap kalimat dan hurufnya, bahwa ia pun cinta kepada saya. Wahai, mengapa dahulunya sebelum ia pergi ia tak memberi tahu! Sekarang, ke manakah balasan akan saya berikan, ke mana alamat akan saya tujukan! Di sini ada sebuah gambarnya semasa ia menuntut ilmu di Padang Panjang yang dihadiahkannya kepada orang tuaku; gambar itulah yang selalu saya lihat-lihat dan saya letakkan baik-baik dalam album ini.

Agaknya engkau pandang rendah saya ini. Ros, mencintai seorang yang tiada sekedudukan dengan diri sendiri, dan jauh tak tentu tempatnya."

"Waktu itu istriku menjawab," kata Saleh, ujarnya, "Tidak, Nab, cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lain menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perangai yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain perangai yang terpuji.

Saya tiada hendak menghinakan engkau karena engkau jatuh cinta kepadanya, dan saya banyak pula membaca dalam buku-buku, bahwa biasanya cinta yang suci bersih itu tidaklah tumbuh dengan sendirinya. Karena jiwa itu bertemu dalam batin, dalam azal kejadian Allah, sebelum badan kasar manusia ini berkenalan. Itulah kuasa gaib yang perlu kita percaya. Sebab itu saya percaya, bahwa cintamu tak jatuh ke pasir, tentu Hamid mencintai engkau pula; tidaklah jiwa engkau akan tertarik mengingat dia, kalau kiranya jiwanya tak mengingat engkau pula. Hati orang yang bercinta mempunyai mata, ia dapat melihat barang yang tak dilihat oleh orang lain."

"Ah," jawab Zainab, "itu cuma kira-kira dan agak-agak belaka. Agak-agak dan kira-kira tak dapat dipercai. Masakan orang yang berpisah sangat jauh, tak berhubungan surat sedikit jua pun akan ingat kepada orang yang ditinggalkannya."

"Jangan begitu, Zainab, engkau tiada percaya akan perkataanku, karena hatimu terlalu dipengaruhi oleh angan-anganmu. Percayalah, bahwa Hamid ingat pula akan engkau."

"Wahai ... ke sana rumit ke mari rumit, Ros, saya percaya bahwa dia ingat kepadaku sebagaimana saya ingat kepadanya, entah agaknya menggantang-gantang asap. Tidak saya percaya, hati saya bertambah luka. Saya tahu, mengingati orang jauh itu suatu penyakit, tetapi saya pun takut penyakit itu akan hilang dari hati ... aduh Gusti Allah!"
>>>>>>>>>

>>>>>>>>>

"Setelah itu terhenti-henti sendiri percakapan kedua sahabat itu. Yang kedengaran hanya sedu-sedan dua orang yang seperasaan dan yang kelihatan ialah orang yang keluh kesah putus asa."

Sekian cerita yang dibawa sahabat kita Saleh. Tidak berapa lama setelah ia menerima riwayat ganjil dari istrinya, ia pun berangkat. Rupanya dengan takdir Tuhan, kami pun bertemu di Tanah Suci ini, pertemuan yang tiada disangka-sangka sedikit juga.

"Barangkali terganggu perjalanan jiwamu menuju bakti dan kesucian karena mendengar berita yang saya bawa itu," kata Saleh. "Tetapi saya sebangsa orang yang tiada tahan memegang rahasia, sehingga terkatakan juga olehku kepada engkau dan beruntung engkau Hamid ... berbahagia sekali."

"Apakah keuntungan dan bahagianya cinta yang tiada berpengharapan?" tanya saya dengan tiba-tiba kepadanya.

"Bukankah cinta itu sudah satu keuntungan dan satu pengharapan, Hamid?" tanyanya pula.

Setelah selesai menerangkan berita itu, tidak berapa hari kemudian Saleh mengirimkan sepucuk surat kepada istrinya Rosna, menerangkan pertemuan kami yang dengan tiba-tiba itu ...

"Tuhan! ... telah bertahun-tahun saya berjalan di dalam gelap gulita, tidak tentu tanah yang akan saya tempuh, tidak kelihatan suatu bintang pun di atas halaman langit akan saya jadikan pedoman dalam menuju perjalanan itu. Demi setelah sampai berita yang demikian, seakan-akan kegelapan itu terang dari sedikit ke sedikit, sebab dari timur mengelemantang cahaya fajar, cahaya yang saya nanti-nanti. Cahaya itu lebih benderang daripada cahaya surya, lebih nyaman dari cahaya bulan dan lebih dingin dari kerlap-kerlip bintang-bintang.

Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh, laksana seorang bersalah besar yang dibuang ke pulau, tiada manusia yang datang menengok, tidak ada kawan yang melihat, ditimpa haus dan dahaga. Sekarang saya telah lepas daripada pembuangan, saya telah dibolehkan pulang dan beroleh ampun, telah ada manusia, yang lalu lintas, telah hilang haus dan dahaga. Sekarang baru saya tahu, baru saya mengerti, bahwa sukacita itu ada juga dijadikan Tuhan di dalam dunia fana ini.

Dahulu, kalau disebut orang di dekat saya untung dan bahagia, tidak lain yang terlintas dalam pikiran saya dari rumah yang indah, gedung yang permai, uang berbilang, mas bertahil, cukup dengan kendaraan dan kehormatan, dijunjung orang ke mana pergi. Untung bahagia sejati ialah jika tahu, bahwa kita bukan hidup terbuang di dalam dunia ini, tetapi ada orang yang mencintai kita.

Lebih setahun saya menghilangkan diri, tidak ada orang lain yang menanyakan hal-ihwal saya dan saya pun tak menanyakan hal-ihwal orang lain.

Segala kesaksian hidup telah saya tangguhkan, ada orang yang lalu lintas di hadapan saya, sambil menggelengkan kepala. Tetapi bukanlah mereka mengasihi jiwa saya, mereka hanya mengasihi tubuh kasar saya yang kurus tak makan atau ditimpa penyakit. Semuanya tiada berarti buat saya.

Sekarang barulah saya tahu bahwa diri saya ada harganya buat hidup, sebab ada orang yang mencintai saya, yaitu orang yang saya cintai!

Dahulu saya telah putus asa hendak hidup, kadang-kadang terlintas di dalam hati saya hendak membunuh diri. Akan sekarang, saya hendak hidup, hendak merasai kelezatan cahaya matahari, sebagai orang lain pula, sebab pergantungan hidupku telah ada.

Habis cerita sahabatku Hamid sehingga itu, mukanya kelihatan berseri-seri, sebab simpanan dadanya yang meluap selama ini telah dapat ditumpahkannya kepada orang yang dipercayainya.

Waktu itu saya menjawab sambil bergurau sedikit, "Insya Allah. sehabis mengerjakan haji saya akan lekas pulang, mudah-mudahan kita dapat pulang bersama-sama."

Ia pun menjawab sambil tersenyum, "Mudah-mudahan ..."

10. SURAT-SURAT

Sepuluh hari sebelum orang-orang berangkat ke Arafah mengerjakan wukuf, jemaah-jemaah telah kembali dari ziarah besar ke Madinah. Waktu itulah pula Saleh kembali ke Mekah. Surat balasan dari istrinya yang datang sepeninggalnya ke Medinah telah kami serahkan ke tangannya. Dalam minggu itu juga datang surat Zainab kepada Hamid.

Kakandaku Tuan!

Surat kakanda telah adinda terima, surat yang telah lama adinda harap-harapkan ... (di sini ada beberapa perkataan laki-istri yang tidak perlu saya salin).

Akan hal Zainab, ia sekarang sakit-sakit, badannya telah kurus. Agaknya karena selalu ingat kepada kejadian yang lama-lama itu. Adinda tiada dapat menahan hati, memperlihatkan surat Kakanda kepadanya. Seketika membaca surat itu, badannya kelihatan gemetar, entah karena cemasnya atau karena harapnya, dapatlah Kanda maklumi sendiri. Ia sangat harap dan sangat rindu hendak bertemu denga Hamid. Tapi hatinya menjadi syak wasangka memikirkan badannya yang selalu tiada sehat itu, entah akan bertemu juga entah tidak.

Alangkah beruntungnya dua orang bersahabat itu kelak, jika mereka dapat bertemu kembali. Ya, mudah-mudahan Allah yang pengasih lagi penyayang mengabulkan pengharapan mereka.

Rosna

Salinan surat Zainab

Abangku Hamid!

Baru sekarang adinda beroleh berita di mana Abang sekarang. Telah hampir dua tahun hilang saja dari mata, laksana seekor burung terlepas dari sangkarnya sepeninggal yang empunnya pergi. Kadang-kadang adinda sesali diri sendiri, agaknya adinda telah bersalah besar, sehingga Kakanda pergi dengan tak memberi tahu lebih dahulu.

Sayang sekali, pertanyaan Abang belum dapat adinda jawab dan Abang telah hilang sebelum mulutku sanggup menyusun perkataan penjawabnya. Kemudian itu Abang perintahkan adinda menurut perintah orang tua, tetapi adinda syak wasangka melihat sikap Abang yang gugup ketika menjatuhkan perintah itu.

Wahai Abang ... pertalian kita diikatkan oleh beberapa macam tanta tanya dan teka-teki kalimat dari suratmu, Abang! ... surat yang terkirim dari Medan, ketika Abang akan berlayar jauh, telah adinda periksa dan dinda selidiki; banyak sangat surat itu berisi bayangan, di balik yang tersurat ada yang tersirat. Adinda hendak membalas, tetapi ke tanah manakah surat itu hendak dinda kirimkan, Abang hilang tak tentu rimbanya!

Hanya kepada bulan purnama di malam hari adinda bisikan dan pesankan kerinduan adinda hendak bertemu. Tetapi bulan itu tak tetap datang; pada malam yang berikutnya dan seterusnya ia kian surut ... Hanya kepada angin petang yang berhembus di ranting-ranting kayu di dekat rumahku, hanya kepadanya aku bisikkan menyuruh supaya ditolongnya memeliharakan Abangku yang berjalan jauh, entah di darat entah di laut, entah sengsara kehausan ...

Hanya kepada surat Abang itu, surat yang hanya sekali itu dinda terima selama hidup, adinda tumpahkan air mata, karena hanya menumpahkan air mata itulah kepandaian yang paling penghabisan bagi orang perempuan. Tetapi surat itu bisu, meskipun ia telah lapuk dalam lipatan dan telah layu karena kerap dibaca, rahasia itu tidak juga dapat dibukanya.

Sekarang Abang, badan adinda sakit-sakit, ajal entah berlaku pagi hari, entah besok sore, gerak Allah siapa tahu. Besarlah pengharapan bertemu ...

Dan jika Abang terlambat pulang, agaknya bekas tanah penggalian, bekas air penalakin dan jejak mejan yang dua, hanya yang akan Abang dapati.

Adikmu yang tulus,

Zainab

Akan dapatkah dilukiskan, dapatkah diperikan bagaimana wajah Hamid ketika membaca surat itu. Dapatkan, mungkinkah dikira-kirakan bagaimana perasaannya waktu itu? Surat demikian adalah pengharapannya selama ini, buah mimpinya. Memikirkan kerendahan derajatnya, tiadalah disangka-sangkanya, bahwa ia akan seberuntung itu, menerima surat Zainab. Belumlah besar kegembiraan seorang budak jika ia diajak tersenyum oleh penghulunya; belumlah besar sukacita seorang pelayan istana jika ia dianugerahi sebentuk cincin oleh rajanya. Surat tanda cinta dari seorang perempuan, perempuan yang mula-mula dikenal dalam kehidupan seorang muda, adalah lebih berharga daripada senyuman seorang penghulu kepada budaknya, lebih mulia daripada sebentuk cincin yang dianugerahkan raja kepada pelayannya. Satu hati lebih mahal daripada senyuman, satu jiwa lebih berharga daripada sebentuk cincin.

Tetapi malang, karena surat itu diterima Hamid ketika dia telah jauh dari hadapan Zainab.

Manusia tidak dapat menentukan nasibnya sendiri!

11. DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH

Pada hari yang kedelapan bulan Zulhijjah, datang perintah dari syekh kami, menyuruh menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Arafah karena pada hari yang kesembilan akan wukuf di sana. Berangkat itu ialah tiga hari setelah kami menerima surat-surat tersebut.

Akan hal Hamid, bermula menerima surat itu tidaklah berkesan pada mukanya, bahwa ia dipengaruhi oleh isinya, tetapi setelah sehari dua, kelihatan ia bermenung saja, bertambah dari biasa. Ketika kami tanyai keadaannya, ia mengatakan, bahwa badannya berasa sakit-sakit. Tetapi oleh karena pergi wukuf ke Arafah menjadi rukun yang tak dapat ditinggalkan pada pekerjaan haji, tak dapat tidak ia pun mesti ikut ke sana. Maka dipasanglah sukduf-sukduf di punggung unta yang ribu-ribu banyaknya, bersedia hendak membawa orang haji ke Arafah itu. Kira-kira pukul enam sore, jemaah-jemaah telah berangkat berduyun-duyun menuju Arafah. Jalan sempit dan penuh oleh manusia dan kendaraan berbagai-bagai, ada yang mengendarai keledai, kuda dan unta, tetapi yang paling banyak duduk dalam sudkuf, yaitu dua buah tandu yang dipasang kiri-kanan punggung unta. Saya bersama Hamid menumpang dalam satu sudkuf.

Di Arafah sangat benar panasnya, sehingga ketika berhenti di tempat itu sehari lamanya, kita ingat-ingat akan berwukuf kelak di Padang Mahsyar. Setelah matahari terbenam kami kembali menuju Mina, berhenti sebentar di Muzdalifah memilih batu untuk melempar "jumrah" di Mina itu kelak. Setelah berdiam di Mina, pada hari yang kesepuluh, kesebelas, kedua belas dan ketiga belas, bolehlah kembali ke Mekah mengerjakan tawaf besar dan sai, setelah itu bercukur, sehabis bercukur baru disebut "haji". Karena telah selesai upacara ibadat yang berat itu.

Pada perhentian besar di Mina itu, orang-orang yang kaya menyembelih korban untuk fakir miskin.

Sekarang kembali diceritakan keadaan Hamid. Demamnya yang dibawa dar Mekah bertambah menjadi, lebih-lebih setelah ditimpa hawa yang sangat panas di Arafah. Hamid tak mau lagi makan, badannya sangat lelah, sehingga seketika berangkat ke Mina ia tiada sadar akan dirinya. Demi melihat hal itu jantung saya berdebar-debar, saya kasihan kepadanya, kalau-kalau di tempat itulah dia akan bercerai buat selama-lamanya dengan kami, lebih-lebih melihat mukanya yang sangat pucat dan badannya sangat lemah.

Setelah selesai penyembelihan besar itu, pada hari yang kedua belas kami berangkat ke Mekah, yaitu mengerjakan rukun yang agak cepat, tidak menunggu sampai tiga hari. Sebelum mengerjakan tawaf besar, lebih dahulu kami singgah ke rumah kami. Karena penyakit Hamid rupanya bertambah berat, terpaksalah kami mencarikan orang Badui upahan, yang biasanya menerima upah mengangkat orang sakit mengerjakan tawaf. Sebelum Hamid diangkat ke atas bangku itu, yang diberi hamparan dari kulit dahan kurma berjalin, khadam syekh terburu-buru mengantarkan sepucuk kawat dari Sumatra! Setelah kami buka, ternyata datang dari Rosna. Muka Saleh menjadi pucat, jantung saya berdebar membaca isinya yang tiada disangka-sangka: Zainab wafat, surat menyusul Rosna.

Setelah dibacanya, dengan sikap yang sangat gugup Saleh menyimpan surat kawat itu ke dalam koceknya, sambil memandang kepada Hamid dengan perasaan yang sangat terharu.

Tiba-tiba dari tempat tidurnya, Hamid kedengaran berkata, "Surat apakah yang tuan-tuan terima? Apakah sebabnya tuan-tuan sembunyikan dariku? Adakah ia membawa kabar suka atau kabar duka? Jika ia kabar suka, tidakkah patut saya diberi sedikit kesukaan itu? Kalau kabar itu mengenai diri saya sendiri, lebih baik tuan-tuan sembunyikan lama-lama, jangan dibiarkan saya di dalam sakit menanggung perasaan yang ragu-ragu."

"Tenangkanlah hatimu, Sahabat!" kata Saleh. "Kehendak Allah telah berlaku. Ia telah memanggil orang yang dicintai-Nya ke hadirat-Nya."

"O, jadi Zainab telah dahulu dari kita?" tanyanya pula. Setelah termenung sejenak. Saleh menganggukkan kepalanya.

Melihat itu kepalanya tertekun, ia menarik nafas panjang, dari pipinya meleleh dua titik air mata yang panas.

Tiada berapa saat kemudian datanglah Badui tersebut dengan temannya membawa tandu yang kami pesan. Hamid pun dipindahkan ke dalam dan diangakat dengan segera menuju Masjidil Haram; saya dan Saleh mengiringkan di belakang menurutkan kedua Badui yang berjalan cepat itu. Setelah sampai di dalam mesjid, dibawalah dia tawaf keliling Ka'bah tujuh kali. Ketika sampai pada yang ketujuh kali, diisyaratkan kepada Badui yang berdua itu menyuruh menghentikan tandunya di antara pintu Ka'bah dengan Batu Hitam (Hajar Aswad), di tempat yang bernama Multazam, tempat segala doa makbul. Orang lain tawaf pula berdesak-desak. Dengan sigap orang-orang Badui itu mengangkat tandu ke dekat tempat tersebut. Hati saya sangat berdebar melihat keadaan itu; saya lihat pula muka Hamid, sudah tampak terbayang tanda-tanda dari kematian. Sesampai di sana diulurkannya tangannya, dipegangnya kiswah kuat-kuat dengan tangannya yang kurus, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi. Saya dekati dia, kedengaran oleh saya dia membaca doa demikian bunyinya:
>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>

"Ya Rabbi, Ya Tuhanku, Yang Maha Pengasih dan Penyayang! Bahwasanya, di bawah lindungan Ka'bah, Rumah Engkau yang suci dan terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon karunia.

Kepada siapakah saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan kepada Engkau, ya Tuhan!

Tidak ada seutas tali pun tempat saya bergantung lain dari pada tali Engkau; tidak ada satu pintu yang akan saya ketuk, lain dari pintu Engkau.

Berilah kelapangan jalan buat saya, hendak pulang kehadirat Engkau, saya hendak menuruti orang-orang yang dahulu dari saya, orang-orang yang betali hidupnya dengan hidup saya.

"Ya Rabbi, Engkaulah Yang Mahakuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali ...

Setelah itu suaranya tiada kedengaran lagi; di mukanya terbayang, suatu cahaya yang jernih dan damai, cahaya keridaan ilahi.

Di bibirnya terbayang suatu senyuman dan ... sampailah waktunya. Lepas ia dari tanggapan dunia yang mahaberat ini, dengan keizinan Tuhannya. Di bawah lindungan Ka'bah!

Setelah nyata wafatnya, maka dengan tidak menunggu lama, kedua Badui itu memikul mayat itu kerumah syekh kami. Dan mereka berdua jugalah yang mengurus dan memikulnya sampai ke kubur.

Pada hari itu juga selesailah mayat sahabat yang dikasihi itu dikuburkan di Pekuburan Ma'ala yang masyhur.

12. Surat Rosna Yang Menyusul Surat Kawat

Dua minggu setelah kejadian itu, datanglah surat Rosna yang dijanjikan kepada suaminya itu, demikian bunyinya:

Kakanda yang tercinta!

Adinda kirimkan surat ini menyusul surat kawat yang dahulu.

Zainab wafat. Apakah selain dari itu yang harus adinda nyatakan? Dia telah menanggung penyakit dengan sabar dan tawakal. Mula-mula adinda akan menyampaikan kabar ini kepada Hamid, sebab senantiasa Hamid menjadi buah mulutnya sampai saatnya yang penghabisan, tetapi tiba-tiba kawat Kakanda datang pula, Hamid telah menyusul kekasihnya.

Demikialah kedua makhluk yang tidak beruntung hidupnya itu, mudah-mudahan arwahnya mendapat bahagia jua di akhirat.

Adinda harus mengaku, bahwa jarang sekali kita bertemu dengan seorang perempuan yang sebagai Zainab. Tidak ada orang luar tahu tentang dirinya, kecuali ibunya dan adinda. Pendengaran yang sampai kepadanya, bahwa Hamid ada di Mekah, mengobarkan kembali apa yang telah hampir padam.

Lima hari sebelum dia meninggal dunia, pagi-pagi benar dia sudah bangun dari tempat tidurnya, mukanya lebih jernih dari biasa. Dengan senyum dia berkata, bahwa dia bermimpi melihat Ka'bah, di antara manusia yang sedang tawaf, dia melihat Hamid. Hamid melambaikan tangan memanggil dia, supaya mendekat kepadanya, setelah dia mendekati dia terbangun ...

Lepas sehari itu, tidak banyak bicaranya lagi. Dokter pun datang juga memeriksa dia, tetapi ketika melihat wajahnya, mengertilah adinda, bahwa obat yang dibawanya sebenar-benarnya ialah buat Ibu Zainab, tidak buat Zainab lagi. Sebab di tangga ketika dia akan pulang, jelas benar oleh adinda dokter itu menggeleng-gelengkan kepala.

Pada malam 9 Zulhijjah panasnya naik dari biasa. Kira-kira pukul 2 tengah malam dipandangnya adinda tenang-tenang, kemudian pula album yang terletak di meja tulisnya; adinda pun mengertilah apa yang dimaksudnya. Adinda ambil album itu dan adinda buka. Demi dilihatnya gambar Hamid, jatuhlah dua teter air mata yang bulat dari mata yang telah cekung itu, diambilnya tangan adinda dan tangan ibunya, dibawanya ke dadanya. Maka dengan berangsur-angsur laksana lampu yang kehabisan minyak, bercerailah badannya dengan sukmanya.

Kakanda, demikianlah kematian Zainab. Dan sekarang sebuah pula yang menjadikan was-was adinda, yaitu keadaan ibunya, bagaimanakah kelak perasaan perempuan itu karena kehilangan anaknya.

Sekianlah dan buat semangat orang yang telah mati, adinda kirimkan salamku dan moga-moga Kanda lekas pulang.

Adindamu,

Rosna

13. Penutup

Kian lama kian sunyilah tanah Mekah. Bukit-bukit yang gundul itu tegak dengan teguhnya laksana pengawal yang menyaksikakan dan menjagai orang haji yang berangsur pulang ke kampungnya masing-masing. Toko kain sudah tutup, sebab enam bulan pula lamanya pasar akan sepi. Tidak putus-putusnya unta berarak-arak diiringkan oleh gembalanya bangsa Badui sambil bernyanyi.

Sehari sebelum kami meninggalkan Mekah, pergilah kami berziarah ke Pekuburan Ma'ala, tempat Hamid dikuburkan. Di sana masih bertemu nisannya, meskipun agak sukar mencarinya sebab telah banyak pula orang lain yang berkubur. Saya hadapkan muka saya ke pusara itu dan saya berkata:

"Hidupmu yang tiada mengenal putus asa, kesabaran dan ketenangan hatimu menanggung sengsara, dapatlah menjadi tamsil dan ibarat kepada kami.

Engkau telah mengambil jalan yang lurus dan jujur di dalam memupuk dan mempertahankan cinta.

Allah adalah Maha Adil. Jika sempit dunia ini bagimu berdua, maka alam akhirat adalah lebih luas dan lapang, di sanalah kelak makhluk menerima balasan dari kejujuran dan kesabarannya; di sanalah penghidupan yang sebenarnya, bukan mimpi dan bukan tonil.

Kami pun dalam menunggu titah pula, sebab ada masanya datang dan ada pula masanya pergi.

Selamatlah, moga-moga Allah memberi berkat atas jiwamu dan jiwa Zainab."

Pukul 4 sore kami tawaf keliling Ka'bah, "Tawaf Wada", artinya tawaf selamat berpisah. Sehari itu juga kami akan berangkat ke Jedah.

Saudaramu Saleh berlayar dengan kapal yang menuju ke Mesir.

Dan kapalku memecahkan ombak dan gelombang menuju Tanah Air yang tercinta.