>>>>>

"Memang Anak, ... cinta itu 'adil sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia dalam keadilan, tidak memperbeda-bedakan di antara raja-raja dengan orang minta-minta, tiada menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang hina dengan orang mulia, bahkan kadang-kadang tiada juga berbeda baginya antara bangsa dengan bangsa. Tetapi aturan pergaulan hidup, tidak membiarkan yang demikian itu berlaku. Orang sebagai kita ini telah di cat dengan 'derajat bawah' atau 'orang kebanyakan', sedang mereka diberi nama 'cabang atas', cabang atas adakalanya karena pangkat dan adakalanya karena harta benda. Cincin emas, orang merasa sayang hendak memberi bermata kaca, tentu zamrud dan nilam juga. Orang merasa sayang membuang emas, akan pengikat batu yang sudah diasah oleh perintang-rintang hatinya, karena lama menanggung dalam penjara."

"Meskipun Zainab suka kepada engkau ... karena agaknya batinnya suci dari perasaan takbur dan mengangkat diri, tidaklah langsung kalau ibunya tak suka. Diletakkan ibunya suka, bermupakat orang itu dahulu dengan kaum kerabat, handai dan tolan. Kalau mereka tak sepakat, waktu itulah kelak engkau diserang oleh putus asa, oleh malu, dan kadang-kadang memberi melarat jiwamu. Sebab waktu api belum besar tidak engkau padamkan lebih dahulu."

"Tidak ada, yang lebih baik daripada melupakan hal itu sebelum ia mendalam. Sebab cinta kepada orang yang demikian, adalah laksana arwah ayahmu hendak kembali ke dunia, karena ia berbesar hati melihat engkau telah besar. Ia tahu dan melihat segala apa yang kejadian dalam dunia ini, dan ia ingin sekali hendak datang. Tetapi sayang ... alam dunia telah terbatas jauh sekali dengan alam barzakh ..."

Lama saya termenung mendengarkan pembicaraan ibu itu, pertama karena amat dalam penyelidikannya kepada paham hidup ini, kedua memikirkan kekuatan jiwanya yang timbul, seakan-akan ada malaikat yang memimpin dia sedang berbicara, yang tidak saya sangka-sangka akan sejelas itu. Beberapa saat antaranya saya pun menjawab: "Terima kasih, Ibu, nasihat Ibu masuk benar ke dalam hatiku, semuanya benar belaka, sebenarnya sudah lama pula anakanda merasa yang demikian, sehingga dengan hati sendiri anakanda berjanji hendak melupakannya. Yang amat ajaib ialah peperangan di antara otak dan hati. Beberapa saat dia dapat dilupakan dan hati mengikut dengan patuh apa kehendak otak. Tetapi bila kelihatan rumah tangganya, atau kelihatan rupanya sendiri, dan kadang-kadang bila namanya disebut orang, hati lupa akan perintah otak, ia kembali berdebar ia surut kepada kenang-kenangannya yang lama. Ini yang kerap kali mengalahkan anakanda."

"Ah Anakku, pandai benar engkau mewartakan nasibmu kepada ibumu! Mengapa engkau segila itu benar, padahal agaknya engkau belum mengetahui bagaimana pula perasaan Zainab kepada dirimu?"

"Wahai Ibu, coba anakanda tahu bahwa cintaku mendapat sambutan dengan semestinya, agaknya tidaklah akan separah benar luka hatiku. Karena cinta yang dibalas itulah obat yang paling mujarab bagi seorang anak muda dalam hidupnya, takkan lebih pintanya daripada itu. Hati anakanda akan besar dan merasa beruntung, jika anakanda ketahui bahwa air mata anakanda yang selama ini telah banyak tercurah, tidak bagai air yang tenggelam di pasir, bahwa pengharapan dalam menuju hidup tak terhambat di tengah jalan; bahwa cita-cita hendak memandangi langit tidak dihalangi oleh awan. Cinta anakanda kepadanya, bukan mencintai tubuhnya dan bentuk badannya, tetapi jiwa anakandalah yang mencintai jiwanya. Kecintaan anakanda bukan pula karena kepandaian menyusun surat-surat kiriman. Kebebasan pergaulan bisa ditutupi dengan perangai yang dibuat-buat dan kepintaran mengarang surat dapat pula menyembunyikan kepalsuan hati. Anakanda mencintai Zainab karena budinya; di dalam matanya ada terkandung lukisan hati yang suci dan bersih."

"Anakku, sudah tinggi fikiranmu rupanya, sudah dapat engkau menerangkan perasaan hati dengan perkataan yang cukup, sudah menurun kepada dirimu kelebihan ayahmu. Ibu tak dapat menyambung perkataan lagi, ... perkataanmu hanya ibu sambut dengan air mata. Hanya kepada Tuhan ibu berharap, mudaha-mudahan Dia memberikan anugerah dan perlindungan akan dirimu. Dia yang telah menanamkan perasaan itu ke dalam hatimu, Dia pula yang berkuasa mencabutnya. Mudah-mudahan itu hanya suatu khayal, suatu angan-angan yang kerap kali mempengaruhi hati anak muda-muda, yang dapat hilang karena pergantian siang dan pertukaran malam."

"mudah-mudahan," jawab saya.

Demikianlah nasihatnya kepada saya, setelah itu kekuatannya tak ada lagi. Dari saat ke saat, hanya yang kelihatan kepayahannya menyelesaikan napas yang turun naik, kadang-kadang dilihatnya saya tenang-tenang dan dingangakannya mulutnya sedikit minta minum. Obat-obat tak memberi faedah lagi. Tidak beberapa malam setelah dia memberikan nasihat itu, datanglah masa yang ditunggu-tunggunya, masa berpindah dari alam yang sempit kepada alam yang lapang. Sementara saya asyik meminumkan obat, di tangan kanan saya terpegang sendok dan di tangan kiri terpegang gelas, ia melihat kepada saya tenang-tenang, alamat perpisahan yang akhir. Dari mulutnya keluar kalimat baka, bersama dengan kepergian nyawanya ke dalam alam suci, yang di sana manusia lepas dari segala penyakit.
>>>>>