8. BERITA DARI KAMPUNG

Telah setahun saya di sini dan waktu mengerjakan haji telah datang. Tuan sendiri yang mula-mula saya kenal semenjak datang orang-orang yang akan mengerjakan haji dari Tanah Air kita. Kemudian sebagai tuan maklum, datang pula saudara kita Saleh. Saleh adalah seorang teman saya semasa kami masih sama-sama bersekolah agama di Padang Panjang. Oleh karena sekolahnya di Padang telah tamat, dia hendak meneruskan pelajarannya ke Mesir, ia singgah ke Mekah ini untuk mencukupkan rukun. Sekarang ia berangkat ke Madinah, supaya sehabis haji dapat ia menumpang kapal yang membawa orang ke Mesir pulang kembali, yang sewanya lebih murah daripada kapal-kapal lain.

Dengan kebetulan sekali, dia telah memilih syekh kita menjadi tempatnya menumpang, sehingga sahabat lama itu bertemu kembali, setelah kami bercerai selama itu.

Wahai Tuan, ... kedatangannya telah menghidupkan ingatan saya kembali kepada yang lama-lama. Dia menceritakan kepadaku, bahwa dia telah beristri dan istrinya telah sudi melepaskan dia berlayar sejauh itu, pada hal mereka baru kawin. Dipujinya istrinya sebagai seorang perempuan yang setia yang teguh hati melepas suaminya berjalan jauh, karena untuk menambah pengetahuannya. Setelah beberapa hari dia datang, dibawanya saya ke Ma'ala; di atas sebuah bangku di halaman gahwa ia membicarakan suatu hal yang sangat menggerakkan pikiran saya.

Sambil meminum syahi (teh) Arab yang panas dan enak, dia memulai bicara:

"Hamid! Tempo hari sudah saya katakan, bahwa saya telah beristri. Istri saya itu ialah Rosna, ... ingatkah engkau akan Rosna, sahabat Zainab?"

Saya pucat mendengar nama Zainab disebutnya. Karena sudah lama benar, saya tiada mendengar nama itu disebut orang, kecuali saya sendiri. Perubahan muka saya itu dilihat oleh Saleh sambil tersenyum urung.

"Kerap kali istriku dimintanya datang ke rumahnya," katanya meneruskan pembicaraannya. "karena perhubungan persahabatan mereka itu yang karib, rupanya Zainab telah sudi membukakan rahasia-rahasia yang sulit kepada istri saya. Yang paling hebat, ialah seketika pada suatu hari istri saya datang ke rumahnya, didapatnya Zainab sedang merenungi sebuah album, di dekat album itu terkembang sehelai surat kecil yang telah lusuh dan lunak, karena kerap kali dibaca dan dibuka lipatannya.

"Setelah adinda kelihatannya," kata istriku, "album itu ditutupnya dengan segera dan surat itu disimpannya baik-baik ke dalam laci mejanya, setelah itu dia melihat kepada adinda dengan tenang, wajahnya muram, matanya berbekas tangis dan dia menarik nafas panjang."

Tiada tahan rupanya hati istriku melihat kejadian itu, maklumlah kaum perempuan itu seperasaan, lalu ia berkata, "Zainab! ... Mengapa engkau menangis pula. Sahabat? Tidaklah di rumah yang sepermai ini sarang orang yang berdukacita.

Di rumah yang indah-indah dan gedung yang permai-permai yang kirh kanannya di kelilingi oleh kebun-kebun yang subur, cukup dengan orang-orang gajian yang setia, tiadalah patut terdapat orang yang mengalirkan air mata. Di sana tidaklah ada kesedihan dan kedukaan."

Zainab menjawab, "Salah sekali persangkaanmu, Sahabat! Bahwasanya air mata tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh, tidak pula memilih waktu untuk turun. Air mata adalah kepunyaan berserikat, dipunyai oleh orang melarat yang tinggal di dangau-dangau yang buruk, oleh tukang sabit rumput yang masuk ke padang yang luas dan ke tebing yang curam, dan juga oleh penghuni gedung-gedung yang permai dan istana-istana yang indah. Bahkan di situ lebih banyak orang menelan ratap dan memulas tangis. Luka jiwa yang mereka idapkan, dilingkung oleh tembok dinding yang tebal dan tinggi, sehingga yang kelihatan oleh orang luar atau mereka ketahui hanya senyumnya saja, padahal senyum itu penuh dengan kepahitan.

Kesedihan orang lain lebih merdeka dan lebih luas, dapat dia menerangkan pahamnya yang terumbuk kepada alam sekelilingnya, dapat pula mereka melupakan dan menghilangkan. Tetapi di rumah tangga yang sebagai ini, kedukaan akan dirasakan sendiri, air mata akan di cucurkan seorang, rumah dan gedung menjadi kuburan kesedihan yang tiada berujung."

Air mata Zainab kembali jatuh.

"Mengapa engkau menangis juga, sahabatku? Kesedihan apakah yang engkau tangguhkan? Teringatkah engkau kepada ayahmu? Kalau demikian engkau salah, Zainab! Lupa engkau agaknya, bahwa kedukaan itu timbul diapit oleh dua rumpun kesukaan."

"Bukan demikian, Sahabat," jawabnya. "Buat diriku sendiri, Tuhan telah mentakdirkan berlain dari orang. Kedukaan tumbuh di antara dua rumpun kedukaan pula. Dahulu saya telah berduka, sekarang berdukacita, dan kelak agaknya akan terus berluka hati."