>

Kedatangan sahabat baru itu mengubah keadaan dan sifat-sifat Hamid. Entah kabar apa agaknya yang baru dibawa Saleh dari kampung yang mengganggu ketenteraman pikiran Hamid. Ia bertambah sungguh membaca kita-kitab, terutama tasawuf karangan Imam Ghazali. Kadang-kadang kelihatan ia bermenung seorang diri di atas sutuh rumah tempatnya tinggal, melihat tenang-tenang kepada "gela'ah" (benteng-benteng) tua di atas puncak Jabal Hindi. Saya seakan seakan-akan tiada dipedulikannya lagi. Satu kali terlihat oleh saya, ketika saya mengerjakan tawaf keliling Ka'bah, ia bergantung pada kiswah, menengadahkan mukanya ke langit, air matanya titik amat derasnya membasahi serban yang memalut dadanya, kedengaran pula ia berdo'a, "Ya Allah kuatkanlah hati hambaMu ini!"

Sebenarnya saya ini pun seorang yang lemah hati, kesedihannya itu telah pindah ke dada saya, meskipun saya tak tahu apa yang disedihkannya.

Kabar apakah agaknya yang dibawa Saleh dari kampung? Apakah sebab Hamid bersedih hati demikian rupa? Dunia yang mnakah yang telah memutuskan harapannya? Tipu daya siapakah yang telah melukai hatinya, hingga ia berhal demikia itu?

Itu senantiasa menjadi soal kepada saya.

Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya di atas sutuh, di atas sebuah bangku yang berhamparkan daun kurma berjalin, memandang kepada bintang-bintang yang memancarkan cahayanya yang indah di halaman langit, saya beranikan hati mendekatkan diri dengannya. Maksud saya kalau dapat hendak membagi keduakaan hatinya.

"Saudara Hamid!" kata saya.

"Oh saudara, duduklah ke mari!" katanya pula sambil memperbaiki duduknya dan mempersilahkan saya.

Setelah sama-sama duduk, ia pun menanyakan keramaian orang haji dan kami pun memperkatakan keadaan pada tahun itu. Tiap-tiap perkataan terhadap kepada Tanah Air, pembicaraan diputarnya kepada yang lain, serupa ia tak suka. Maka akhirnya hati saya tidak tahan lagi, saya pun berkata:

"Sudah lama saya perhatikan hal-ihwalmu, Saudara rupanya engkau dalam duka cita yang amat sangat. Agaknya engkau kurang percaya kepada saya, sehingga engkau tak mau membagi-bagikan kedukaan itu dengan saya. Sebagai seorang kawan, yang wajib berat sama memikul dan ringan sama menjinjing, apabila jauh dari tanah air, sewajibnyalah saya engkau beri tahu, apakah yang menyusahkan hatimu sekarang, sehingga banyak perubahanmu daripada yang biasa?

Ia melihat kepada saya tenang-tenang.

"Katakanlah kepada saya, wahai Sahabat!" ujar saya pula.

"Saya akan menolong engkau sekedar tenaga yang ada pada saya. Karena meskipun kita belum lama bergaul, saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan engkau kepada diri saya."

"ini satu rahasi tuan!" katanya.

"Akan saya pikul rahasia itu jika engkau percaya kepadaku, setelah itu saya kunci pintunya erat-erat, kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh, sehingga seorang pun tak dapat mengambilnya ke dalam hatiku lagi."

Mendengar ucapan saya itu mukanya kembali tenang dan ia berkata, "Jika telah demikian Tuan berjanji, tentu Tuan tidak akan menyia-nyiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada Tuan, karena kebaikan budi Tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada Tuan sebab-sebab saya bersedih hati, akan saya paparkan satu persatu, sebagaimana berkata-kata dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap Tuan simpan cerita perasaan saya ini selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada Tuan, siapa tahu ajal di dalam tangan Allah, saya izinkan Tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan meratap memikirkan kemalangan nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin memberi rahmat kepada saya di tanah pekuburan."

Air mata saya terpercik mendengarkan perkataanya itu.

Ia bermenung kira-kira dua atau tiga menit; di antara gemuruh suara manusia yang hampir sunyi di dalam Masjidil Haram itu, di antara do'a beribu-ribu makhluk yang sedang berangkat ke langit ke hadirat Tuhan, sahabatku itu mengumpulkan ingatannya. Awan gelap yang menutup keningnya hilanglah dari sedikit ke sedikit; setelah itu ia menarik nafas panjang, seakan-akan mengumpulkan ingatan yang bercerai-berai dan ia pun memulai perkataanya.