10. SURAT-SURAT

Sepuluh hari sebelum orang-orang berangkat ke Arafah mengerjakan wukuf, jemaah-jemaah telah kembali dari ziarah besar ke Madinah. Waktu itulah pula Saleh kembali ke Mekah. Surat balasan dari istrinya yang datang sepeninggalnya ke Medinah telah kami serahkan ke tangannya. Dalam minggu itu juga datang surat Zainab kepada Hamid.

Kakandaku Tuan!

Surat kakanda telah adinda terima, surat yang telah lama adinda harap-harapkan ... (di sini ada beberapa perkataan laki-istri yang tidak perlu saya salin).

Akan hal Zainab, ia sekarang sakit-sakit, badannya telah kurus. Agaknya karena selalu ingat kepada kejadian yang lama-lama itu. Adinda tiada dapat menahan hati, memperlihatkan surat Kakanda kepadanya. Seketika membaca surat itu, badannya kelihatan gemetar, entah karena cemasnya atau karena harapnya, dapatlah Kanda maklumi sendiri. Ia sangat harap dan sangat rindu hendak bertemu denga Hamid. Tapi hatinya menjadi syak wasangka memikirkan badannya yang selalu tiada sehat itu, entah akan bertemu juga entah tidak.

Alangkah beruntungnya dua orang bersahabat itu kelak, jika mereka dapat bertemu kembali. Ya, mudah-mudahan Allah yang pengasih lagi penyayang mengabulkan pengharapan mereka.

Rosna

Salinan surat Zainab

Abangku Hamid!

Baru sekarang adinda beroleh berita di mana Abang sekarang. Telah hampir dua tahun hilang saja dari mata, laksana seekor burung terlepas dari sangkarnya sepeninggal yang empunnya pergi. Kadang-kadang adinda sesali diri sendiri, agaknya adinda telah bersalah besar, sehingga Kakanda pergi dengan tak memberi tahu lebih dahulu.

Sayang sekali, pertanyaan Abang belum dapat adinda jawab dan Abang telah hilang sebelum mulutku sanggup menyusun perkataan penjawabnya. Kemudian itu Abang perintahkan adinda menurut perintah orang tua, tetapi adinda syak wasangka melihat sikap Abang yang gugup ketika menjatuhkan perintah itu.

Wahai Abang ... pertalian kita diikatkan oleh beberapa macam tanta tanya dan teka-teki kalimat dari suratmu, Abang! ... surat yang terkirim dari Medan, ketika Abang akan berlayar jauh, telah adinda periksa dan dinda selidiki; banyak sangat surat itu berisi bayangan, di balik yang tersurat ada yang tersirat. Adinda hendak membalas, tetapi ke tanah manakah surat itu hendak dinda kirimkan, Abang hilang tak tentu rimbanya!

Hanya kepada bulan purnama di malam hari adinda bisikan dan pesankan kerinduan adinda hendak bertemu. Tetapi bulan itu tak tetap datang; pada malam yang berikutnya dan seterusnya ia kian surut ... Hanya kepada angin petang yang berhembus di ranting-ranting kayu di dekat rumahku, hanya kepadanya aku bisikkan menyuruh supaya ditolongnya memeliharakan Abangku yang berjalan jauh, entah di darat entah di laut, entah sengsara kehausan ...

Hanya kepada surat Abang itu, surat yang hanya sekali itu dinda terima selama hidup, adinda tumpahkan air mata, karena hanya menumpahkan air mata itulah kepandaian yang paling penghabisan bagi orang perempuan. Tetapi surat itu bisu, meskipun ia telah lapuk dalam lipatan dan telah layu karena kerap dibaca, rahasia itu tidak juga dapat dibukanya.

Sekarang Abang, badan adinda sakit-sakit, ajal entah berlaku pagi hari, entah besok sore, gerak Allah siapa tahu. Besarlah pengharapan bertemu ...

Dan jika Abang terlambat pulang, agaknya bekas tanah penggalian, bekas air penalakin dan jejak mejan yang dua, hanya yang akan Abang dapati.

Adikmu yang tulus,

Zainab

Akan dapatkah dilukiskan, dapatkah diperikan bagaimana wajah Hamid ketika membaca surat itu. Dapatkan, mungkinkah dikira-kirakan bagaimana perasaannya waktu itu? Surat demikian adalah pengharapannya selama ini, buah mimpinya. Memikirkan kerendahan derajatnya, tiadalah disangka-sangkanya, bahwa ia akan seberuntung itu, menerima surat Zainab. Belumlah besar kegembiraan seorang budak jika ia diajak tersenyum oleh penghulunya; belumlah besar sukacita seorang pelayan istana jika ia dianugerahi sebentuk cincin oleh rajanya. Surat tanda cinta dari seorang perempuan, perempuan yang mula-mula dikenal dalam kehidupan seorang muda, adalah lebih berharga daripada senyuman seorang penghulu kepada budaknya, lebih mulia daripada sebentuk cincin yang dianugerahkan raja kepada pelayannya. Satu hati lebih mahal daripada senyuman, satu jiwa lebih berharga daripada sebentuk cincin.

Tetapi malang, karena surat itu diterima Hamid ketika dia telah jauh dari hadapan Zainab.

Manusia tidak dapat menentukan nasibnya sendiri!