3. PENOLONG

Enam bulan kemudian.

Di dekat rumah kami ada sebuah gedung besar bepekarangan yang cukup luas; dalam pekarangan itu ada juga ditanam buah-buahan yang sudah lezat, sebagai saoh dan rambutan. Rumah itu sudah lama tinggal kosong, karena yang empunya, seorang Belanda, telah pulang ke Eropa; yang menjaga selama ini adalah seorang jongos tua. Kabarnya konon rumah itu akan dijual, sebab tuan itu tidak akan kembali lagi ke negeri ini. Selama itu kerap kali kami datang ke situ meminta buah rambutan dan saoh (sawo) kepada Pak Paiman, demikian nama jongos tua itu.

Tiba-tiba rumah itu kembali diperbaiki, karena telah dibeli oleh seorang saudagar tua yang hendak berhenti dari berniaga. Ia akan hidup di hari tua dengan senang, sebagai mengaso dari pekerjaanya yang berat di waktu muda, memakan hasil dari rumah-rumah sewaan yang banyak di Padang dan di Bukittinggi, demikian pun sawah-sawahnya yang luas di sebelah Payakumbuh dan Lintau.

Setelah rumah itu selesai diperbaiki, pindahlah orang hartawan itu ke sana bersama dengan istri dan seorang ananknya perempuan. Di hadapan rumah itu, di atas satu batu marmer yang licin dan mungil ada tertulis leter: Haji Ja'far.

Tiap-tiap pagi saya lalu di hadapan rumah itu menjunjung nyiru berisi goreng pisang. Mata saya senantiasa memanandang ke jendela-jendelanya yang berlelansir kain sutra kuning hendak melihat keindah perabotan rumah. Pikiran saya menjalar, memikirkan kesenangan hati orang yang tinggal dalam itu, cukup apa yang akan di makannya dan diminumnya; air selera saya menjelijih bila saya ingat, bahwa kami di rumah kadang makan kadang tidak. Setelah saya akan meninggalkan halaman saya panggilkan jualan saya, "Beli goreng pisang! Masih panas!"

Lama-lama tertariklah perempuan yang setengah tua itu hendak memanggil jualan saya, demikian juga anaknya. Pernah kedengaran oleh saya dia berkata, "Panggillah Nab, kasihan juga awak!"

Perempuan itu suka memakan sirih, mukanya jernih, peramah dan penyayang. Pak Paiman yang telah jadi jongos untuk memelihara pekarangan itu, belum pernah dapat suara keras darinya. Anak perempuannya itu masih kecil, sebaya dengan saya. Apa perintah ibunya diikutinya dengan patuh, rupanya ia amat disayangi karena anaknya hanya seorang itu.

Sudah dua tiga kali saya datang ke rumah yang indah dan bagus itu; setiap saya datang setiap bertambah sukanya melihat kelakuan saya dan belas kasihan akan nasib saya. Pada suatu hari perempuan itu bertanya kepada saya:

"Di mana engkau tinggal. Anak, dan siapa ayah bundamu?"

"Saya tinggal dekat saja, Mak" jawab saya. "itu rumah tempat kami tinggal, di seberang jalan. Ayah saya telah meninggal dan saya tinggal dengan ibu saya. Beliaulah yang membuat kue-kue ini; pagi-pagi saya berjualan goreng pisang dan kalau sore biasanya menjual rakit udang atau godok perut ayam."

"Berapakah keuntunganmu sehari?" tanyanya pula.

"Tidak tentu, Mak. Kadang-kadang kalau untung baik, dapat setali, kadang-kadang kurang dari itu, sekedar cukup untuk kami makan setiap hari ..."

"Kasihan ...," katanya sambil menarik nafasnya.

Setelah itu ia berkata pula, "Bawalah ibumu nanti sore ke mari, katakan mamak yang baru pindah ke rumah itu hendak berkenalan dengan ibu."

"Saya Mak, ibu saya kurang benar keluar dari rumah."

"Suruhlah saja dia datang kemari, mamak perlu hendak bertemu."

"Baiklah kalau begitu, Mak, "jawab saya.
>>>