6. TEGAK DAN RUNTUH

Telah lalu kejadian itu dan dia telah memberi bekas pula ke dalam jiwa saya; rupa-rupanya kedukaan dan cobaan mesti diturunkan kepada manusia secukup-cukupnya dan sepuas-puasnya.

Semenjak kematian itu tidak berapa kerap kali saya datang kerumahnya, saya karam dalam permenungan, memikirkan hidup saya di belakang hari, sebatang kara di dunia ini.

Pada suatu petang, sedang matahari akan tenggelam ke dasar lautan di Batang Arau, di antara ujung Gunung Padang di celah-celah ombak yang memecah ke atas pasir yang putih di Pulau Pandan, di waktu saya sedang berjalan-jalan seorang diri di pesisir Arau yang indah itu, melihat perahu tumpangan datang dari seberang, di atasnya duduk tiga orang perempuan yang agak tua berundung-undung kain Bugis halus. Setelah perahu kecil itu merapat, keluarlah dari dalamnya perempuan-perempuan itu, seorang di antaranya ialah Mak Asiah sendiri. Ia lekas melihat saya.

"Oh, engkau Hamid? Mengapa di sini?" katanya.

"Berjalan-jalan Mak," jawabku; "dan Mak dari mana?"

"Dari menziarahi kubur bapakmu ... mengapa engkau tak datang-datang ke rumah semenjak ibumu meninggal? Karena Engku Haji Ja'far tak ada lagi, akan engkau alang saja datang ke rumah?"

"Tidak Mak, cuma kematian yang bertimpa-timpa itu agaknya mendukakan hatiku, itulah sebab saya kurang benar keluar rumah."

"Tidak boleh begitu, Hamid; sebenarnya engkaulah yang mesti menyabarkan hati kami. Besok engkau mesti datang ke rumah, ibu tunggu kedatanganmu, banyak yang perlu kita bicarakan."

"Baiklah, Mak!"
"Saya tunggu, ya?"
"Baik, Mak!"

Setelah itu ia pun pergi; di tengah jalan, sebelum mereka naik sado, rupa-rupanya pembicaraan mereka terhadap kepada diri saya saja. Karena tak berapa langkah jauhnya, perempuan-perempuan tua yang lain menoleh kepada saya sebagai rupa orang menunjukkan kasihan.

Besoknya janji itu pun saya tepati.

Wahai Tuan, hari itulah masa yang tak dapat saya lupakan!

Saya datang ke rumah itu, rumah tempat saya bersenda gurau dengan Zainab di waktu kecil. Rumah itu seakan-akan kehilangan semangat dan memang kehilangan semangat, karena bekas-bekas kematian masih kelihatan nyata. Pintu luar terbuka sedikit dan saya ketuk daunnya yang menghadap ke dalam; pintu terbuka ... Zainab yang membukakan.

Abang Hamid!" katanya.

Waktu itu kelihatan nyata oleh saya mukanya merah, nampak sangat gembiranya melihat kedatangan saya. Baru sekali itu dan baru sesaat itu selama hidup saya melihat mukanya demikian, yang tak bisa saya gambarkan dan tuturkan dengan susunan kata, pendeknya wajah yang memberi saya pengharapan penuh.

"Bang Hamid!" katanya menyambung perkataanya.

"Sudah lama benar Abang tak datang ke mari, lupa Abang agaknya kepada kami!"

Gugup saya hendak menjawab; saya pintar mengarang khayal dan angan-angan, tetapi bila sampai di hadapannya saya menjadi seorang yang bodoh.

"Tidak. Zainab," jawabku dengan gugup; "Tapi ... bukankah kita sama-sama kematian?"

Seketika itu mukanya kembali ditekurkannya menghadap kakinya, tangannya berpegang ke pinggir pintu, rambutnya yang halus menutupi sebagian keningnya dan sepatah kata pun dia tak berbicara lagi.

"Zainab," ... kataku pula. "sebentar tidaklah saya ... pernah lupa hendak datang kemari, barangkali engkaulah ... agaknya yang ... lupa kepadaku."

Mendengar itu ia bertambah menekur, tak berani dia rupanya mengangkat rupanya lagi, dan saya pun gugup pula hendak menambah perkataan. Memang bodoh saya ini, dan pengecut!

Tiba-tiba dalam saya menyediakan perkataan yang akan saya katakan pula dan dalam sedang merenungi kecantikan Zainab, kedengaranlah dari halaman bunyi telapak kaki Mak Asiah menginjak batu; Zainab mengangakat mukanya seraya berkata, "Itu Ibu datang."

Saya masih dalam kebingungan, Zainab lalu ke hadapan saya menyambut kedatangan ibunya. Ketika sampai ke beranda dia berkata, "Ini Bang Hamid telah datang."

Mak Asiah masuk dengan gembira, seraya berkata, "sudah lama, Mid?"

"Baru sebentar ini, Mak" jawabku.

Saya disuruhnya duduk, Zainab dengan segera pergi ke belakang memasak kopi sebagaimana kebiasaannya.

"Hampir mamak terlalai dari janji kita. Tadi mamak pergi ke rumah orang sebelah, karena tidak lama lagi dia akan mengawinkan anaknya; dari sekarang sedang bersiap-siap menyediakan yang perlu, maklumlah tetangga perlu bantu-membantu."

saya dengarkan perkataannya, tetapi, pikiran saya masih tetap ingat kepada kejadian tadi. Pikiran saya menjalar ke mana-mana, memikir-mikirkan tekur Zainab dan mukanya yang merah ketika mula-mula melihat saya; hanya suatu kejadian yang tiba-tibakah itu, atau adakah dia merasai sebagai yang saya rasai? Dalam pada itu Mak Asiah masih tetap membicarakan beberapa perkara, menyebut-nyebut jasa suaminya, menyebut kebaikan ibuku. Akhirnya sampailah pembicaraan kepada Zainab.

"Bagaimanakah pikiranmu, Hamid, tentang adikmu Zainab ini?"
>>>>>>