>>>>

Pakansi itu pun datanglah, segala cita-cita yang telah saya reka selama belajar, dan yang telah saya susun di jalan antara Padang Panjang dengan Padang, semuanya dapat saya jalankan; ibu titik air matanya karena kegirangan, Engku Haji Ja'far tersenyum mendengar saya mengucapkan terima kasih. Mak Asiah memuji saya sebagai anak yang berbudi. Cuma ketika berhadapan dengan Zainab dalam rumahnya, mulut saya tertutup, saya menjadi seorang bodoh pengecut.

"Kapan Abang pulang?" katanya.
"Pukul sepuluh tadi pagi, "jawab saya.
"Apa kabar? Baik?"
"Alhamdulillah . . ."

Setelah itu saya menjadi bingung, tidak tentu lagi apa yang akan saya terangkan kepadanya. Segala rancangan saya terhadap dirinya yang saya reka-rekakan tadi, semuanya hilang. Ia melihat tenang-tenang kepada saya, seakan-akan ada pembicaraan saya yang ditunggunya, tetapi kian lama saya kian gugup, sehingga sudah lalu hampir 15 menit, tidak ada di antara kami yang bercakap.

"Mudah-mudahan selamatlah, dan kerap kalilah datang ke mari kalau masih di rumah," katanya pula; lalu ia berdiri dari tempat duduknya, kembali ke pekarangan belakang, kedalam pingitannya. Saya pun berdiri, saya ambil kopiah saya, sambil menarik nafas panjang, saya pun keluar.

Dalam hati, saya teringat hendak menulis surat kepadanya, akan ganti diri saya menerangkan segala perasaan hati. Surat itu akan saya tulis dengan tulus dan ikhlas, tidak bercampur dengan kata-kata yang dapat menyinggung hati, baik perkara cinta atau perkara lainnya, apalagi surat itu tidak akan diketahui orang isinya jika ditulis dalam bahasa Belanda.Tetap, ah . . . saya tak sampai hati, sebab perbuatan itu adalah satu kelakuan sia-sia belaka. Jika perbuatan itu hanya sehingga daerah persaudaraan di antara adik dan kakak, tidaklah mengapa. Tetapi adalah saya ini seorang yang lemah, otak saya tak dapat mempengaruhi dan mengendalikan hati saya, sepandai-pandai saya mengatur dan menyusun kata, akhirnya tentu salah satu perkataan dalam surat itu terpaksa juga membawa arti lain, padahal dalam perkara yang halus-halus anak perempuan amat dalam pemeriksaannya.

Cinta itu adalah jiwa; antara cinta yang sejati dengan jiwa tak dapat dipisahkan, cinta pun merdeka sebagaimana jiwa. Ia akan tidak memperbedakan di antara derajat dan bangsa, di antara kaya dan miskin, mulia dan papa. Demikianlah jiwa seya, di luar dari kekang kerendahan saya. Saya merasa ingat kepadanya adalah kemestian hidup saya, rindu kepadanya membukakan pintu angan-angan saya menghadapi zaman yang akan datang.

Dahulu saya tiada pedulikan hal itu, tetapi setelah saya besar dan terpisah darinya, barulah saya insaf, bahwa kalau bukan di dekatnya, saya berasa kehilangan.

Mustahil dia akan dapat menerima cinta saya, karena dia langit dan saya ini bumi, bangsanya, tinggi dan saya hidup darinya tempat buat lekat hati Zainab. Jika kelak datang waktunya orang tuanya bermenantu, mustahil pula saya akan terpilih masuk dalam golongan orang yang terpilih untuk menjadi menantu Engku Haji Ja'far. Karena tidak ada yang akan dapat diharapkan dari saya. Tetapi Tuan . . . kemustahilan itulah yang kerap kali memupuk cinta.

Setelah puasa habis, saya kembali ke Padang Panjang. Sebelum berangkat saya datang ke rumahnya menemuinya, menemui ayahnya dan ibunya. Dari ayahnya saya dapat nasihat: "Belajarlah sungguh-sungguh, Hamid, mudah-mudahan engkau lekas pintar dalam perkara agama dan dapat kehendaknya saya menolong engkau sampai tamat pelajaranmu . . ."

"Insy Allah, Engku," jawa saya.

Setelah itu saya berangkat; seketika saya melengong yang penghabisan ke belakang, nyata kelihatan oleh saya Zainab berdiri di pintu tengah, melihat kepada saya. Di situ timbul pula kembali sifat saya yang pengecut; saya menghadap ke muka dan saya pun pergi . . .