9. HARAPAN DALAM PENGHIDUPAN

Mula-mula Zainab termenung, setelah beberapa saat lamanya iapun berkata:

"Ingatkah engkau, Ros, bahwa dahulu ada tinggal di dekat rumahku ini seorang anak muda bernama Hamid?"

"Masakan saya tak ingat, anak muda yang baik budi dan beroleh pertolongan dari almarhum ayahmu itu."

"Ah, Ros, saya amat kasihan kepada orang muda itu. Dia seorang muda yang cukup miskin mendapat bantuan dari ayahku. Semasa usianya empat tahun ia telah yatim. Ayahku yang membantunya, dan seketika sekolahnya akan lanjut, ayahku meninggal pula, kemudian meninggal ibunya. Rupanya karena ia senantiasa dirundung malang, sangatlah dukatcita hatinya, sehingga ia telah menghilangkan diri entah kemana perginya, berbulan-bulan sampai sekarang, kabar tidak berita pun tidak. Budinya baik sekali, pekertinya tinggi dan mulia; memang dalam kalangan orang-orang yang dirundung malang itu kerapkali timbul budi pekerti yang mulia, timbul dengan baik dan suburnya, bukan karena latihan tangan manusia.

Bertahun-tahun kami hidup laksana beradik berkakak; maka pada dirinya saya dapati beberapa sifat yang tinggi dan terpuji, yang agaknya tidak ada pada pemuda-pemuda yang lain, baik dalam kalangan bangsawan atau hartawan sekalipun. Sampai kepada saat yang paling akhir dari pada kehidupan ayahku, belum pernah ia menunjukkan suatu perangai yang patut dicela, sehingga ibu bapakku sangat memuji akan dia. Ia tahu benar akan kewajibannya.

Wahai Ros, saya tertarik benar kepadanya dan kepada tabiatnya. Ia suka sekali bersunyi-sunyi, memisahkan diri pada pergaulan ramai, laksana seorang pendeta pertapa yang benci akan dunia leta ini. Kerap kali ia pergi bermenung ke tepi pantai Samudra Hindia yang luas itu, memperhatikan pergulatan ombak dan gelombang, seakan-akan pikirannya telah terpaku kepada keindahan alam ini. Bila ia pulang ke rumah ibunya yang dicintainya, ia menunjukkan khidmatnya dengan sepertinya. Bila ia bertemu dengan saya, buah tuturnya tiada keluar dari lingkar kesopanan, tahu ia menenggang hati dan menjaga kata.

Sebagai kau tahu, kita pun tamat dari sekolah, maka adat istiadat telah mendinding pertemuan kita dengan laki-laki yang bukan mahram, bukan saudara atau famili karib, waktu itulah saya merasai kesepian yang sangat. Saya merasa kehilangan seorang teman yang sangat saya takjubi. Keadaan memisahkan saya dengan dia, tiada dapat lagi saya mendengarkan buah tuturnya yang lembut-lembut. Waktu itulah saya insaf, bahwa saya sudah ditimpa oleh suatu perasaan ganjil, saya merasa lengang dan sunyi, ingatan saya sebentar-sebentar kembali kepada Hamid saja.

Engkau kan tahu Ros, bahwa Hamid tidak begitu gagah, tidak sepantas dan selagak pemuda lain, tetapi hati kecilk amat kasihan kepadanya, agaknya hidupnya yang sederhana itulah yang telah memaut hati sanubariku. Saya amat iba kepadanya, karena saya merasa bahwa tak ada orang lain yang akan mengibai dirinya. Heran Ros, saya telah karam di dalam khayal, di dalam angan-angan.

Kadang-kadang saya singkirkan dia dari pikiran, karena timbul takburku memikirkan derajatku, saya rasai ketinggian dan kemuliaan diriku, lebih daripada derajat kedudukan Hamid dan saya takut akan terjatuh kedalam jurang cinta, tetapi orang mengabarkan bahwa takut itu pun setengah daripada rupa cinta juga.

Maka di antara awan yang gelap gulita dan angin badai yang berhembus semenjak pertengahan malam, tiba-tiba cahaya fajar pun naiklah. Itulah fajar kenang-kenangan dan pengharapan, daripada cinta dan rindu dendam. Sebenarnya Ros ... saya cinta kepada Hamid! Biar engkau tertawakan daku, Sahabat, biar mulutmu tersenyum simpul, saya akan tetap berkata, bahwa saya cinta kepada Hamid. Ia tidak berpembela, tidak ada orang yang akan sudi menyerahkan diri menjadi istrinya karena dia miskin. Tidak ada gadis yang akan sudi memperdulikan dia, karena rupanya tak gagah. Itulah sebabnya dia saya cintai. Hartaku ada sedikit, cukup untuk membantu cita-citanya, karena saya lihat dia bisa menjadi seorang ahli seni jika ada yang membantu. Buat saya dialah yang paling pantas dan cakap, meskipun bagi orang lain agaknya tidak. Saya leluasa melihatinya lalu lintas di halaman rumah, meskipun dia tak melihat saya. Jika sekali-kali dia datang mengunjungi ibuku, aku dengarkan perkataannya yang penuh dengan ilmu dan pengetahuan itu baik-baik.

Pada suatu hari, hari yang tiada dapat saya lupakan, ia datang ke rumah ini menemui ibu. Ketika itu ibu tiada di rumah. Tiba-tiba saya bertemu muka dengan dia. Rupanya ada perkataan yang hendak dikatakannya, mulutnya masih gugup dan tak lancar, rasa-rasa terdengar olehku suaranya sekarang: "Zainab, sebenarnya tidaklah saya pernah lupa hendak datang kemari, barangkali engkaulah agaknya yang lupa kepadaku."
>>>>>>>>>