| Harga getah di Jambi, dan di seluruh tanah ini sedang naik, negeri Mekah baru saja pindah dari tangan Syarief Husin ke tangan Ibnu Saud, Raja Hejaz dan Nejd dan daerah takluknya, yang kemudian ditukar namanya menjadi Kerajaan "Arabiyah Saudiyah". Setahun sebelum itu telah naik haji pula dua orang yang kenamaan dari negeri kita. (H.O.S. Cokroamintota dan KH Mas Mansur, naik haji pada tahun 1926). Maka tersiarlah keamanan Negeri Hejaz. Karena itu banyak orang yang berniat mencukupkan Rukun Islam yang kelima itu. Tiap-tiap kapal haji yang berangkat menuju Jedah penuh sesak membawa jemaah haji. Konon kabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum itu ataupun sesudahnya. Waktu itulah saya naik haji. Dari Pelabuhan Belawan saya telah berlayar ke Jedah, menumpang kapal "Karimata". Empat belas hari lamanya saya terkatung-katung di dalam lautan besar. Pada hari kelima belas sampailah saya ke Pelabuhan Jedah, di pantai Laut Merah itu. Dua hari kemudian saya pun sampai di Mekah, Tanah Suci kaum muslimin sedunia. Alangkah besar hati saya ketika melihat Ka'bah, tidaklah dapat saya perikan; karena dari kecilku, sebagai kebiasaan tiap-tiap orang islam, Ka'bah dan menara Masjidil Haram yang tujuh itu telah menjadi kenang-kenanganku. Saya injak Tanah Suci dengan persangkaan yang baik. Saya hadapi tiap-tiap orang yang orang yang mengerjakan ibadat dengan penuh kepercayaan, bahwa mereka pun merasai gembira, yang sebagai saya rasai itu. Mula-mula saya menyangka, bahwa di negeri yang suci itu, saya tidak akan bertemu dengan kejadian yang ganjil atau hikayat yang sedih dalam kehidupan manusia. Sebab sangka saya, tentu saja selain dari diri saya sendiri, orang-orang yang datang kesana itu adalah orang-orang yang gembira dan mampu, yang banyak tertawanya daripada tangisnya. Tetapi rupanya, di mana jua pun di atas dunia ini, asal ditempati oleh manusia, kita akan bertemu dengan kekayaan dan kemiskinan, kesukaan dan kedukaan, tertawa dan ratap tangis. Saya telah mendengar, di antara azan (bang) yang sayup-sayup sampai di puncak menara yang tujuh, di antara gemuruh do'a manusia yang sedang berkeliling (tawaf) di sekitar Ka'bah, di antara takbir umat yang sedang berlari pergi balik antara Bukit Safa dan Marwah, saya telah mendengar ratap dan rintih seorang makhluk Tuhan, sayup-sayup sampai, antara ada dengan tiada, hilang-hilang timbul di dalam gemuruh yang hebat itu. Sebagai kebiasaan jemaah dari Tanah Jawa, saya menumpang di rumah seorang syekh yang pekerjaan dan pencahariannya semata-mata dari memberi tumpangan bagi orang haji. Di hadapan kamar yang telah ditentukan syekh untuk saya, ada pula sebuah kamar berukuran kecil yang muat dua orang. Di sana tinggal seorang anak muda yang baru berusia kira-kira 23 tahun, badannya kurus lampai, rambutnya hitam berminyak, sifatnya pendiam, suka bermenung seorang diri dalam kamarnya itu. Biasanya sebelum kedengaran azan Subuh, ia telah lebih dahulu bangun, pergi ke mesjid seorang dirinya. Menurut keterangan syekh kami, anak muda itu berasal dari sumatra, datang pada tahun yang lalu, jadi adalah dia seorang yang telah mukim di Mekah. Melihat kebiasaannya yang demikian dan sifatnya yang saleh, saya menaruh hormat yang besar atas dirinya dan saya ingin hendak berkenalan. Maka dalam dua hari saja berhasillah maksud saya itu; saya telah beroleh seorang sahabat yang mulia dan patut dicontoh. Hidupnya amat sederhana, tiada lalai dari beribadat, tiada suka membuang-buang waktu kepada yang tiada berfaedah, lagi amat suka memperhatikan buku-buku agama, terutama kitab-kitab yang menerangkan kehidupan orang-orang yang suci, ahli-ahli tasawuf yang tinggi. Bila saya terlanjur membicarakan dunia dan hal-ihwalnya dengan amat halus dan tiada terasa pembicaraan itu dibelokkannya kepada kehalusan budi pekerti dan ketinggian kesopanan agama, sehingga akhirnya saya terpaksa tunduk dan memandangnya lebih mulia daripada biasa. Baharu dua bulan saja, semenjak awal Ramadhan sampai Syawal, pergaulan saya dengan dia, telah banyak saya tertarik olehnya di dalam menuju kesucian, terutama di negeri yang semata-mata untuk beribadat itu. Tetapi pergaulan yang baik itu tiba-tiba terusik sebab dengan kapal yang paling akhir telah tiba seorang teman baru dari Padang. Entah karena kebetulan saja, atau disengaja lebih dahulu, ia telah menjadi jemaah syekh kami pula. Sahabat saya yang baru itu amat terkejut melihat bahwa sahabat saya ada di Mekah. Rupanya tidak disangka-sangkanya mereka akan bertemu di sana dan sahabat saya pun rupanya tidak pula menyangka akan bertemu dengan saudara baru itu. Nama sahabat saya ialah Hamid dan nama saudara baru itu Saleh. Saleh, menurut keterangannya, hanya dua atau tiga hari saja sebelum naik haji akan tinggal di Mekah, dia akan pergi ke Madinah lebih dahulu; dua tiga hari pula sebelum jemaah haji ke Arafah ia kembali ke Mekah. Setelah selesai mengerjakan haji, dia akan meneruskan perjalanannya ke Mesir, menyambung pelajarannya. > |
| 1. MEKAH PADA TAHUN 1927 |