| Darahku berdebar, detik-detik jantungku berhenti. "Apakah yang Mamak maksudkan?" tanya saya. "Segala kaum kerabat di darat telah bermufakat dengan mamak hendak mempertalikan Zainab dengan seorang kemenakan almarhum bapakmu, yang ada di darat itu. Dia sekarang sedang bersekolah di Jawa. Maksud mereka dengan perkawinan itu supaya harta benda almarhum bapaknya dapa dijagai oleh kaum keluarga sendiri, oleh kemenakannya, sebab tidak ada saudara Zainab yang lain, dia anak tunggal. Pertunangan itu telah disepakati oleh yang patut-patut; jika tak ada aral melintang, bulan di muka ini hendak dipertunangkan saja dahulu, nanti di mana tamat sekolahnya akan dilangsungkan saja perkawinan. Katanya tanah pekuburan ayahnya masih merah, air matanya belum kering lagi. Itulah sebabnya engkau mamak suruh ke mari, akan mamak lawan berunding. Mamak masih ingat pertalian dengan Zainab, masa engkau masih kecil dan masa sekolah; engkau banyak mengetahui tabiatnya, apalagi engkau tak dipandangnya orang lain lagi; sukakah engkau, Hamid menolong mamak?" Lama saya termenung ... "Mengapa engkau termenung, Hamid? Dapatkah engkau menolong mamak, melunakkan hatinya dan membujuk dia supaya mau? Hamid! ... Mamak percaya kepadamu sepenuh-penuhnya, sebagai mendiang bapakmu percaya kepada engkau!" "Apakah yang akan dapat saya tolong Mak? Saya seorang yang lemah. Sedangkan ibunya sendiri tak dapat mematuh dan melunakkan hatinya, kononlah saya orang lain, anak semangnya." "Jangan berbicara begitu, Hamid, engkau tidak mamak pandang orang lain lagi, almarhum telah memasukkan engkau ke dalam golongan kami, walaupun beragih, tetapi tak bercerai. Maka di atas namanya hari ini, di atas nama Haji Ja'far, mamak meminta tolong melunakkan hati adikmu." "O, itu namanya perintah, saya kabulkan permintaan Mamak." Mukanya kelihatan gembira, meskipun dia tak sempat memperhatikan bagaimana perubahan muka saya yang telah muram. Sebentar sesudah itu Zainab datang membawa tiga cangkir kopi dan beberapa piring kue-kue. Ibunya melihat kepadanya dengan kasih dan mesra, karena di diri anaknya itulah tergantung harapannya yang penghabisan. "Duduk, Nab, Bang Hamidmu hendak berkata sepatah dua dengan engkau." Saya masih agak bingung dan Zainab telah duduk ke dekat ibunya dengan wajah agak kemalu-maluan. Beberapa menit lamanya hening saja dalam ruangan itu, tak seorang jua di antara kami yang berkata-kata; ibunya seakan-akan menunggu supaya perkataan itu lekas dimulai, Zainab kelihatan agak gugup, tak mau melihat muka saya, sedang saya masih termenung memikirkan dari manakah pembicaraan itu akan saya mulai." "Bicarakanlah, Hamid, banyak amat tempo terbuang," kata ibunya dengan tiba-tiba. Sulit sekali memulai pembicaraan itu, sulgt menyuruh seseorang mengerjakan suatu pekerjaan yang berat hatinya melakukan, pekerjaan yang berlawanan dengan kehendak hatinya sendiri. Tetapi dibalik itu, sebagai seorang anak muda yang telah dicurahi orang kepercayaan dengan sepenuh-penuhnya, akhirnya hati saya dapat juga saya bulatkan dan saya mulailah berkata: "Begini Zainab, ... sudah lama ayah meninggal, semenjak itu lenganglah rumah ini, tiada seorang pembantu pun yang akan dapat menjaganya. Selain dari itu, menurut aturan hidup di dunia, seorang gadis perlulah mengikut perintah dan kehendak orang tuanya, terutama kita orang Timur ini. Buat menunjukkan setia dan hormatnya kepada orang tuanya ia perlu menekankan segala perasaan hati sendiri. Dia hanya mesti ingat sebuah saja, yaitu mempergunakan diri baik murah atau mahal, untuk berkhidmat kepada orang tua." "Sekarang, karena memikirkan kemuslihatan rumah tangga dan memikirkan hati ibumu, padahal hanya dia sendiri lagi yang dapat engkau khidmati, ia berkehendak supaya engkau mau dipersuamikan ... dipersuamikan dengan ... kemenakan ayahmu. Seakan-akan terlepas dari suatu bebae yang mahaberat saya rasanya, setelah selesai perkataan yang sulit itu. Selama saya berbicara Zainab masih tetap menekur ke meja, tangannya mempermainkan sebuah puntung korek api, diremas-remasnya dan dipatah-patahnya, beluam sebuah juga perkataan keluar dari mulutnya. Setelah kira-kira lima menit lamanya, barulah mukanya diangkatnya, air matanya kelihatan menggelenggang, mengalir setitik dua titik ke pipinya yang halus montok itu. "Bagaimana, Zainab, jawablah perkataanku!" "Belum Abang, saya belum hendak kawin." "Atas nama ibu, atas nama almarhum ayahmu." "Belum, Abang! Sampai hati Abang memaksa aku?" "Abang tidak memaksa engkau, Adik, ingatlah ibumu." Mendengar itu dia kembali terdiam, ibunya terdiam, ia telah menangis pula. Karam rasanya bumi ini saya pijakkan, gelap tujuan yang akan saya tempuh. Dua kejadian yang hebat telah membayang dalam kehidupan saya sehari itu, tak ubahnya dengan seorang yang bermimpi mendapat sebutir mutiara di tepi lautan besar, sebelum mutiara itu dapat dibawa pulang, tiba-tiba sudah tersadar; meskipun mata dipaksa tidur kembali, mimpi yang tadi telah tinggal mimpi, ia telah tamat sehingga itu, tidak ada sambungannya lagi. >>>>>> |
| >>>>>> |