>>>

Setelah itu saya pun pulang, sampai di rumah saya katakanlah kepada ibu perkataan orang di gedung besar itu. Mula-mula ibu seakan-akan hendak menampik, dia agak marah kepada saya, kalau-kalau saya telah bercepat mulut menerangkan untung perasaian kami kepada orang lain. Tetapi setelah mendengar ketaerangan saya, hatinya pun senang. Pada sorenya dengan takut-takut cemas pergilah dia ke rumah besar itu.

Meskipun ibu saya merasa malu-malu dan isaf akan kerendahan derajatnya. Mak Asiah, demikian nama istri Engku Haji Ja'far itu, sekali-kali tiada meninggikan diri, sebagai kebiasaan perempuan-perempuan istri orang hartawan atau orang berpangkat yang lain. Bahkan ibuku dipandangnya sebagai saudaranya, segala perasaian dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan muka yang rawan, kadang-kadang ia pun turut menangis waktu ibu menceritakan hal-hal yang sedih-sedih. Sehingga waktu cerita itu habis, terjadilah di antara keduanya persahabatan yang kental, harga-menghargai dan cinta mencintai.

Sejak saat itu saya telah leluasa datang ke rumah itu. Saya sudah beroleh adik yang tidak berapa tahun kecilnya dari saya, yaitu anak perempuan di gedung besar itu. Zainab namanya.

Peribahasa yang halus dari Mak Asiah, adalah didikan juga dari suaminya, seorang hartawan yang amat peramah kepada fakir dan miskin. Konon kabarnya, kekayaan yang didapatnya itu adalah dari usahanya sendiri dan cucur peluhnya, bukan waris dari orang tuanya. Dahulunya dia seorang yang melarat juga, tetapi berkat yakinnya, terbukalah pintu pencaharian. Sungguhpun dia telah kaya raya, sekali-kali tidaklah dia lupa kepada keadaanya tempo dahulu, dia amat insaf melihat orang-orang yang melarat, lekas memberi pertolongan kepada orang yang berhajat.

Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu saya dengan perasaan yang sangat gembira, membawa kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja'far sendiri bersama-sama anaknya.

Mendengar perkataan itu, terlompatlah air mata ibuku karena suka cita, kejadian yang selama ini sangat diharap-harapkannya.

Besok paginya, saya tidak menjunjung nyiru tempat kue lagi, tetapi telah pergi ke sekolah mengepit buku tulis. Agaknya dua macam faedah yang akan diambil Engku Haji Ja'far menyerahkan saya, pertama untuk menolong saya, kedua untuk jadi teman anaknya. Saya pun insaf, lebih-lebih setelah dapat beberapa nasihat dari ibuku. Zainab telah saya pandang sebagai adik kandung, saya jaga dari gangguan murid-murid yang lain. Lepas dari sekolah kerap kali saya datang dengan ibu ke rumah besar itu, kalau-kalau ada yang patut kami bantu dan kami tolong, karena kami telah dipandang sebagai anggota rumah yang indah itu.

Umur saya lebih tua daripada Zainab. Meskipun saya hanya anak yang beroleh tolongan dari ayahnya, sekali-kali tidaklah Zainab memandang saya sebagai orang lain lagi, tidak pula pernah mengangkat diri, agaknya karena kebaikan didikan ayah bundanya. Cuma di sekolah, anak-anak orang kaya kerap kali menggelakkan saya, anak berjual goreng pisang telah bersekolah sama-sama dengan anak orang hartawan.
>>>