2. ANAK YANG KEMATIAN AYAH

Masa saya masih berusia empat tahun, ayah saya telah wafat. Dia telah meninggalkan saya sebelum saya kenal siapa dia dan betapa rupanya. Hanya di dinding masih saya dapati gambarnya, gambar semasa ia masih muda, gagah dan manis.

Ia meninggalkan saya dan ibu di dalam keadaan yang sangat melarat. Rumah tempat kami tinggal hanya sebuah rumah kecil yang telah tua, yang lebih pantas kalau disebut gubuk atau dangau. Kemiskinan telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini, karena tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah terban. Hanyalah saya yang tinggal, jerat semata, tempat dia menggantungkan pengharapan untuk zaman yang akan datang, zaman yang masih gelap.

Meskipun masa itu ibu masih muda dan ada juga dua tiga orang dari kalangan saudagar-saudagar atau orang-orang berpangkat yang memintanya menjadi istri tetapi semuanya telah ditolaknya dengan perasaan yang sangat terharu. Hatinya masih belum lupa kepada almarhum ayah, semangatnya boleh dikatakan telah mengikuti ke pekuburan.

Diwaktu malam, ketika akan tidur; kerap kali ibu menceritakan kebaikan ayah semasa beliau hidup; ia seorang terpandang dalam pergaulan dan amat besar cita-citanya jika saya besar, akan menyerahkan saya masuk ke sekolah, supaya menjadi orang yang terpelajar. Masa itu daun sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat, orang pun datanglah berduyun-duyun menghampirkan diri, mengatakan mamak, mereka itu mendakwakan bersaudara, berkarib, berfamili, rumah tangga senantiasa mendapat kunjungan dari kiri dan kanan. Tetapi setelah perniagaan ayah jatuh dan kemelaratan menjadi ganti segala kesenangan itu tersisihlah kedua laki istri itu dari pergaulan, tersisih dan renggang dari sedikit ke sedikit. Lantaran malu, ayah pindah ke kota padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu, supaya namanya hilang sama sekali dari kalangan kaum kerabat itu.

Ibu pun menunjukkan kepadaku beberapa do'a dan bacaan, yang menjadi wirid dari almarhum ayah semasa mendiang hidup, menghamparkan pengharapan yang besa-besar kepada Tuhan serwa sekalian alam, memohonkan belas kasih Nya.

Karena di dalam umur yang semuda itu telah ditimpa sengsara yang tiada berkeputusan, tidak lah sempat saya meniru meneladan teman sesama anak-anak. Di waktu teman-teman bersuka ria bersenda gurau, melepaskan hati yang masih merdeka, saya hanya duduk dalam rumah di dekat ibu, mengerjakan apa yang dapat saya tolong. Kadang-kadang ada juga disuruhnya saya bermain-main, tetapi hati saya tiada dapat gembira sebagai teman-teman itu, karena kegembiraan bukanlah saduran dari luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira itu. Apalagi kalau saya ingat, bagaimana dia kerap kali menyembunyikan air matanya di dekat saya, sehingga saya tak sanggup menjauhkan diri darinya.
>>