| Dua minggu setelah kejadian itu, datanglah surat Rosna yang dijanjikan kepada suaminya itu, demikian bunyinya: Kakanda yang tercinta! Adinda kirimkan surat ini menyusul surat kawat yang dahulu. Zainab wafat. Apakah selain dari itu yang harus adinda nyatakan? Dia telah menanggung penyakit dengan sabar dan tawakal. Mula-mula adinda akan menyampaikan kabar ini kepada Hamid, sebab senantiasa Hamid menjadi buah mulutnya sampai saatnya yang penghabisan, tetapi tiba-tiba kawat Kakanda datang pula, Hamid telah menyusul kekasihnya. Demikialah kedua makhluk yang tidak beruntung hidupnya itu, mudah-mudahan arwahnya mendapat bahagia jua di akhirat. Adinda harus mengaku, bahwa jarang sekali kita bertemu dengan seorang perempuan yang sebagai Zainab. Tidak ada orang luar tahu tentang dirinya, kecuali ibunya dan adinda. Pendengaran yang sampai kepadanya, bahwa Hamid ada di Mekah, mengobarkan kembali apa yang telah hampir padam. Lima hari sebelum dia meninggal dunia, pagi-pagi benar dia sudah bangun dari tempat tidurnya, mukanya lebih jernih dari biasa. Dengan senyum dia berkata, bahwa dia bermimpi melihat Ka'bah, di antara manusia yang sedang tawaf, dia melihat Hamid. Hamid melambaikan tangan memanggil dia, supaya mendekat kepadanya, setelah dia mendekati dia terbangun ... Lepas sehari itu, tidak banyak bicaranya lagi. Dokter pun datang juga memeriksa dia, tetapi ketika melihat wajahnya, mengertilah adinda, bahwa obat yang dibawanya sebenar-benarnya ialah buat Ibu Zainab, tidak buat Zainab lagi. Sebab di tangga ketika dia akan pulang, jelas benar oleh adinda dokter itu menggeleng-gelengkan kepala. Pada malam 9 Zulhijjah panasnya naik dari biasa. Kira-kira pukul 2 tengah malam dipandangnya adinda tenang-tenang, kemudian pula album yang terletak di meja tulisnya; adinda pun mengertilah apa yang dimaksudnya. Adinda ambil album itu dan adinda buka. Demi dilihatnya gambar Hamid, jatuhlah dua teter air mata yang bulat dari mata yang telah cekung itu, diambilnya tangan adinda dan tangan ibunya, dibawanya ke dadanya. Maka dengan berangsur-angsur laksana lampu yang kehabisan minyak, bercerailah badannya dengan sukmanya. Kakanda, demikianlah kematian Zainab. Dan sekarang sebuah pula yang menjadikan was-was adinda, yaitu keadaan ibunya, bagaimanakah kelak perasaan perempuan itu karena kehilangan anaknya. Sekianlah dan buat semangat orang yang telah mati, adinda kirimkan salamku dan moga-moga Kanda lekas pulang. Adindamu, Rosna |
| 12. Surat Rosna Yang Menyusul Surat Kawat |