| Saat yang ditakuti itu pun datanglah; dengan hati riang bercampur masygul, saya terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Riang, karena saya telah beroleh diploma dan masygul karena berpisah dengan teman-teman, artinya masa gembira, masa menghadapi zaman yang akan datang dengan penuh kepercayaan, telah habis. Setelah guru membagikan diploma kami masing-masing, dengan bersorak kami meninggalkan pekarangan sekolah, kami bersalam-salaman satu dengan yang lain dan guru memberi kami peringatan, supaya sekolah kami diteruskan bagi siapa yang sanggup. Anak-anak Belanda dan beberapa anak saudagar-saudagar yang mampu, dengan bangga menyatakan di hadapan teman-temannya, bahwa sekolah itu akan diteruskannya, setelah habis pakansi pelajarannya. Saya sendiri, tidaklah saya beritahu bahwa saya akan menambah pelajaran agama, karena selama ini teman-teman mengejekkan saya, mengatakan gila agama. Yang berasa sedih amat, adalah anak-anak perempuan yang akan masuk pingitan; tamat sekolah bagi mereka artinya suatu sangkar yang telah tersedia buat seekor burung yang bebas terbang. Zainab sendiri, sejak tamat sekolah, telah tetap dalam rumah, didatangkan baginya guru dari luar yang akan mengajarkan berbagi-bagi kepandaian yang perlu bagi anak-anak perempuan, seperti menyuji, merenda, memasak dan lain-lain. Petang hari ia menyambung pelajarannya dalam perkara agama. Saya, tidak berapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang Panjang, melanjutkan cita-cita ibu saya karena kedermawanan Engku Haji Ja'far juga. Sekolah-sekolah agama yang di situ mudah sekali saya masuki, karena lebih dahulu saya telah mempelajari ilmu umum; saya hanya tinggal memperdalam pengertian dalam perkara agama saja, sehingga akhirnya salah seorang guru memberi pikiran, menyuruh saya mempelajari agama di luar sekolah saja sebab kepandaian saya lebih tinggi dalam hal ilmu umum daripada kawan yang lain. Demikianlah pelajaran itu telah saya tuntut dengan sungguh-sungguh hati. Tetapi . . . Sejak semula saya pindah ke Padang Panjang, senantiasa saya merasa kesepian. Kian lama saya tinggal di negeri dingin itu, kian terasa oleh saya, bahwa saya sebagai seorang yang terpencil. Keindahan alam yang ada di sekililing kota dingin itu menghidupkan kenang-kenangan saya kepada hal-hal yang telah lalu. Merapi dengan kepundannya yang laksana disepuhi emas, panas petang yang menyinari puncak Tandikat waktu matahari akan pulang ke barat dan mempertaruhkan jabatan memberi cahaya kepada bulan, Singgang yang senantiasa diliputi kabut, dengan kebun-kebun tebunya yang beriak-riak ditiup angin semuanya membangkitkan perasaan-perasaan yang ganjil, yang sangat mengganggu perjalanan pikiran. Saya berasa sebagai seorang yang kehilangan, padahal jika saya periksa penaruhan saya, pasti meja tulis, kain dan baju, semuanya cukup. Tetapi badan saya ringan, seakan-akan ada suatu kecukupan yang telah kurang. Cuma saya ingat, bahwa jika dengan teman-teman sama sekolah, saya pergi melihat keindahan air mancur di Batang Anai atau mendaki Bukit Tui, atau gua batu di Sungai Andok, bilamana saya melihat keindahan ciftaan alam itu, saya ingat, alangkah senang hati Zainab jika ia turut melihat pula. Karena saya tahu betul, bahwa ia seorang anak perempuan yang dalam perasaanya; waktu sama-sama sekolah, ia suka benar mendengarkan nyanyian-nyanyian yang sedih, walaupun nyanyian Barat atau nyanyian Timur. Bilamana lalu di hadapan rumahnya seorang buta diirit air matanya. Bagaimanakah perasaanya kelak jikalau dia ada pula di tempat yang indah itu? Senantiasa saya hitung pertukaran hari ke bulan dan dari bulan ke tahun. Bilamana pakansi puasa telah datang, gembiralah hati saya, karena akan dapat saya menghadap ibu saya, memaparkan di hadapannya, bahwa ia sudah patut gembira, karena anaknya ada harapan akan menjadi orang alim. Dapat pula bersimpuh di hadapan Engku Haji Ja'far, yang dermawan, bahwa pertolongannya ada harapan akan berhasil; bersimpuh pula di hadapan Mak Asiah, karena dengan pertolongannya juga saya telah menjadi orang baik. Kemudian dari itu akan dapat pula bertemu dengan Zainab. Akan saya nyatakan di hadapannya dengan gembira, dengan hati besar, sehingga dia akan termangu-mangu mendengarkan cerita saya, apalagi dia amat sukar dapat keluar dari lingkungan rumahnya. >>>> |
| 4. APAKAH NAMANYA INI? |