>>>>>>>

Tiada lama saya di Medan, saya menuju singapura, mengembara ke Bangkok, berlayar terus memasuki tanah-tanah Hindustan, dan dari Karachi berlayar menuju ke Basrah, masuk ke Irak, melalui Sahara Nejd dan akhirnya sampailah saya ke Tanah Suci ini.

Sekarang sudah Tuan lihat, saya telah ada di sini, di bawah lindungan Ka'bah yang suci, terpisah dari pergaulan manusia yang lain. Di sinilah saya selalu tepekur dan bermohon kepada Tuhan serwa sekalian alam, supaya ia memberi saya kesabaran dan keteguhan hati menghadapi kehidupan. Setiap malam saya duduk beriktikaf di dalam Masjidil Haram, do'a saya telah berangkat ke langit hijau membumbung ke dalam alam gaib bersama-sama permohonan segala makhluk yang makbul.

Segala peringatan kepada zaman yang lama-lama, dari sedikit-ke sedikit berangsur-angsur lupa juga. Cuma sekali-kali ia terlintas di pikiran, ketika itu saya menarik nafas panjang, karena biarpun luka sembuh dengan kunjung, bekasnya mesti ada juga. Tetapi hilang pula dia dengan segera, bila saya bawa tawaf sai atau saya bawa bertekun di dalam mesjid tengah malam. Sudah hampir datang tuma'ninah (ketetapan) ke dalam hati saya dan menurut persangkaan saya mula-mula, tamatlah cerita ini sehingga itu.