>>>>>>>>

"Engkau menyesali nasib, Zainab!"

"Menyesali nasib saya tidak, menyedar untung saya bukan. Melainkan yang sebetulnya yang saya katakan."

"Zainab ... kalau tidak akan memberi bahaya benar, nyatakan apalah kepadaku, apa yang menjadi sebab duka-citamu sebesar itu benar karena sudah agak lama saya melihat mukamu muram, sehingga air mata saya sendiri berserikat, tercurah untuk kesedihanmu, padahal, saya tak tahu apa yang engkau tangiskan! Terangkanlah padaku, Sahabat! Saya akan meratap menuruti ratapmu, karena engkau dan untuk engkau, biarlah air mataku kering, karena tidak ada kepandaian kaum perempuan selain dari menangis."

Laksana seorang anak yang mohon dikasihani, dipeluknya Rosna. Seketika lamanya kedua sahabat itu berpelukan-pelukan, bertangis-tangisan, tidak berkata-kata.

"Sudahlah, Zainab, ditimpa oleh penyakit lain. Ceritakanlah kepada saya hal yang engkau rahasiakan itu, mudah-mudahan karena sudah ada tempat menerangkannya tanggungan itu bisa ringan sedikit, sebab beban untuk sendiri sudah dibagi dua."