7. BERJALAN JAUH

Dua kejadian yang berjuang pada hari itu, cukuplah untuk menentukan tujuan nasib saya; nikmat hati hanya lalu sebagai khayal belaka. Setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi. Kepada Tuhan dapatlah saya mengantarkan suatu pengorbanan untuk seorang perempuan yang lemah, saya menolongnya, membujuk hati anaknya yang keras.

Untuk itu perasaan hati sendiri telah saya tekankan; sungguh besar sekali korban yang saya berikan.

Memang, kalau diukur dengan pikiran, saya ini hanya pantas menjadi saudara Zainab, menjadi pembelanya, tetapi cinta mempunyai suatu lapangan yang lebih luar daripada ukuran pikiran itu. Itulah yang senantiasa tertulis dalam hati, yang sukar dilupakan selama-lamanya. Ada suatu penjawaban yang tergantung, yang belum sempat saya dengar dari mulut Zainab, dan keras persangkaan saya akan diberinya pada hari itu; itulah senantiasa yang menjadi penyakit pada saya, tetapi menjadi obat juga.

Kemudian saya insaf, bahwa alam ini penuh dengan kekayaan. Allah menunjukkan kekuasaannya. Tidaklah adil jika semua makhluk dijadikan dalam tertawa, yang akan menangiskan mesti ada pula. Kita mesti mengukur perjalanan alam dengan ukuran yang luas, bukan dengan nasib sendiri.

Bukankah patut saya bersyukur dan berterimakasih, sebab seorang perempuan tua telah dapat saya tolong, saya patahkan hati anaknya yang hanya satu, tempat menumpahkan segala pengharapannya. Kalau kelak terjadi perkawinan Zainab dengan kemenakan ayahnya dan mereka hidup beruntung, sehingga Mak Asiah waktu menutup mata tidak merasa bahwa dia masih ada utang-piutang dengan anaknya bukan saya yang telah mengusahakan.

Memang, mula-mula hati itu mesti berguncang; bukankah lonceng-lonceng di rumah juga berbunyi keras dan berdengung jika kena pukul? Tetapi akirnya, dari sedikit ke sedikit, dengung itu akan berhenti jua. Cuma saja saya mesti berikhtiar supaya luka-luka yang hebat itu jangan mendalam kembali. Saya mesti berusaha, supaya berangsur sembuh. Untuk itu saya mengambil keputusan, saya mesti meninggalkan kota Padang, terpaksa tak melihat wajah Zainab lagi, saya berjalan jauh.

Setelah saya siapkan segala yang perlu dan rumah tangga saya pertaruhkan kepada salah seorang handai yang setia, dengan tak seorang pun yang mengetahui, saya berangkat meninggalkan kota Padang, kota yang permai dan sangat cinta itu, dengan menekankan dan membunuh segala perasaan yang senantiasa mengharu hati. Saya tumpangi oto yang akan berangkat ke Siantar.

Di kiri kanan saya banyak penumpang lain yang akan menuju kota Medan. Setelah saya sampai ke Medan saya buat surat kepada Zainab, sesudah hati saya, saya beranikan: itulah surat saya yang pertama kali kepadanya. Jika kelak ternyata dia tak cinta kepada saya, syukur, sebab saya tak melihat mukanya yang kesal membaca surat itu. Tetapi kalau ia nyata ada mempunyai perasaan sebagai yang saya rasai dan surat itu diterimanya dengan sepertinya, tentu sekurang-kurangnya saya akan menerima belas kasihnya, sebagai seorang melarat yang diarak untung perasaian.

Demikian bunyi surat itu, masih hafal oleh saya:

Adik Zainab!
Menyesal sekali, karena sebelum berangkat tak sempat saya bertemu muka dengan Adinda lebih dahulu. Maafkanlah Adik, karena amat banyak alangan yang menyebabkan saya tak sempat datang seketika itu, alangan yang tidak dapat saya sebutkan.

Barangkali agak sedikit, tentu Adik bertanya juga dalam hati, apa gerangan sebabnya Abang Hamid berangkat dengan tiba-tiba. Biarlah hal itu menjadi soal buat sementara waktu, lama-lama tentu akan hilang juga dengan sendirinya.

Banyak hal-hal yang akan saya terangkan dalam surat ini tetapi tak sanggup saya melukiskan.

Hanya dengan surat ini saya bermohon sangat supaya Adik menuruti segala cita-cita ibu. Jika kelak maksud keluarga sampai dan adik bersuami, berikan kepadanya kesetiaan yang penuh.

Akan hal diri saya ini, ingatlah sebagai mengingat seorang yang telah pernah bertemu dalam peri penghidupanmu, seorang sahabat dan boleh juga disebut saudara yang ikhlas dan saya sendiri akan memandang engkau tetap sebagai adikku.

Jika pergaulanmu kelak dengan suamimu berjalan dengan gembira dan beruntung, sampaikanlah salam abang kepadanya. Katakan bahwa di suatu negeri yang jauh, yang tak tentu tanahnya ada sahabat yang senantiasa ingat akan kita. Dan biarlah Allah memberi perlindungan atas kita semuanya.
Wassalam abangmu
Hamid

Demikianlah bunyi surat yang saya kirimkan.
>>>>>>>