>>>

Dua perkataan yang manis, yang timbul dari hati yang suci, telah merapatkan kami, perkataan itu ialah abang dan adik.

Sampai sekarang, saya masih teringat nikmat kehidupan dalam dunia anak-anak yang kerap kali diratapi oleh ahli-ahli syair, yang hanya datang sekali ke alam manusia selama hidupnya. Waktu itu bila pulang dari sekolah, saya dan Zainab bersama teman-teman kami yang lain berlari-lari bermain gala dalam pekarangan rumahnya, memanjat pohon rambutan yang sedang ranum, kadang-kadang bercari-carian dan bersorak-sorak. Waktu itu ibuku dan ibunya sedang duduk di beranda belakang; ibuku senantiasa merendahkan diri, melihat kami dengan rasa suka cita. Kadang-kadang di waktu sore kami duduk di beranda muka, membalik-balik buku gambar, bertengkar dan berkelahi, kemudian damai pula.

Hari minggu kami diizinkan pergi ke tepi laut, ke Muara atau ke tepi Batang Arau, melihat perahu pengail yang sedang dikatung-katungkan gelombang di tengah samudra luas, kain layarnya dipuput oleh angin mengantarkannya ke tengah, akan mencari rezekinya. Negerh Periaman hijau nampaknya dari jauh, ombak memecah dan menderum tiada berhenti memukuli tepi pasir itu. Di sana kami berlari-lari mengejar ambai-ambai yang sigap dan lekas lari ke sarangnya. Kadang-kadang kami perbuat unggunan pasir sebagai rumah-rumah atau mejid, tiba-tiba datang ombak yang agak besar, dihapuskannya unggunan yang kami dirikan itu; anak-anak perempuan lari ke tepi menyingsingkan tepi bajaunya, takut tersiram air laut.

Waktu orang berlimau, sehari orang akan puasa, kami dibawa ke atas puncak Gunung Padang, karena di sanalah ayahku berkubur dan beberapa famili ibu Zainab. Saya disuruh membawa air wangi dalam botol. Zainab membawa bunga-bungaan dan ibuku beserta ibunya mengiring dari belakang.

Semuanya masih tergambar dalam pikiran saya hari ini. Masih saya ingat bahwa persaudaraan kami suci dan ikhlas adanya, dari tahun berganti tahun, sampai kami tamat dari sekolah pertengahan.

Amat besar budi Engku Haji Ja'far kepada saya, banyak kepandaian yang telah saya peroleh karena kebaikan budinya itu. Dari sekolah rendah (HIS) saya sama-sama naik dengan anaknya menduduki MULO. Tetapi setelah tamat dari sana, sekolah kami takkan disambung lagi, karena sebenarnya didikan ibuku akan melekat pada diri saya, yaitu condong kepada mempelajari agama. Zainab pun hingga itu pelajarannya, karena dalam adat orang hartawan dan bangsawan Padang, kemajuan anak perempuan itu hanya terbatas hingga MULO, belum berani mereka keluar dari kebiasaan umum, melepaskan anak perempuannya belajar jauh-jauh. Setelah tamat dari MULO, menurut adat Zainab masuk dalam pingitan, ia tidak akan dapat keluar lagi kalau tidak ada keperluan yang sangat penting, itu pun harus ditemani oleh ibu atau kepercayaannya, sampai datang masanya bersuami kelak.

Dan saya, bila sekolah itu tamat, akan berangkat ke Pandang Panjang, sebab Engku Haji Ja'far masih sanggup membelanjai saya, apalagi demikianlah cita-cita ibuku.