| Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian yang sekonyong-konyong dari Engku Haji Ja'far yang dermawan itu. Ia seorang yang sangat dicintai oleh pendudu negeri, karena ketinggian budinya dan kepandaiannya dalam pergaulan; tidak ada satu pun perbuatan umum di sana yang tak dicampuri oleh Engku Haji Ja'far. Kematiannya membawa perubahan, yang bukan sedikit kepada perhubungan kami dengan rumah tangga Zainab. Dia yang telah membukakan pintu yang luas kepada saya memasuki rumahnya di zaman hidupnya, sekarang pintu itu mau tak mau telah tertutup. Sebagai seorang lain, pertemuan kami tidak lekas sebagai dahulu lagi. Ah . . . zaman semasa kanak-kanak, ia telah pergi dari kalangan kami dan takkan kembali lagi. Belum berapa lama setelah budiman itu menutup mata, datang pula musibah baru kepada diri saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyeberangi hidup bertahun-tahun telah ditimpa sakit, sakit yang selama ini telah melemahkan badannya, yaitu penyakit dada. Kerap kali Zainab dan ibunya, datang melihat ibuku, dan duduk di dekat kalang hulunya, sedang saya duduk menjaga dengan diam dan sabar. Kerap kali pula Mak Asiah berkata, "Ah, luka yang lama belum sembuh, sekarang datang pula luka baru. Belum lama saya menjagai suami saya sakit, sekarang saya mesti melihat pula sahabat saya menanggung sakit. Mudah-mudahan ia lekas sembuh." Waktu itu Zainab diam dalam menungnya, di hadapan ibu yang sedang sakit, kerap kali ia melihat saya dengan muka yang tenang, dan agaknya besertakan dengan nasib yang ditanggungnya sendiri. Tetapi sepatah kata pun tak keluar dari mulutnya dan saya pun melihat pula, sehingga kedua mata yang hitam, seakan-akan terbayang berulang-ulang beberapa perkataan yang penting, meskipun lidah tiada sanggup menunjukkan artinya. Mak Asiah pergi bersama Zainab, di meja mereka letakkan sepinggan bubur yang telah didinginkan, ditutup dengan sebuah piring kecil, untuk ibu, karena dia tak kuat makan nasi. Ketika dia akan pergi, dia berkata, "Jagalah dia baik-baik, jika dia bangun kelak, berilah bubur ini barang sesendok kecil." "Baiklah Mak," kata saya. Pintu mereka tutupkan baik-baik dan mereka pun pergila. Setelah beberapa saat kemudian, ibuku mengembangkan matanya; di dalamnya hanya kelihatan tinggal cahaya dari kekerasan hati, padahal kekuatan telah habis. Dicarinya saya dengan matanya yang telah kabur, tangannya yang telah tinggal jangat pamalut tulang itu mencapai-capai ke kiri ke kanan mencari tangan saya. Dengan segera saya berikan tangan kanan saya, dipegangnya erat-erat dan dibawanya ke mulutnya serta diciumnya, lama sekali; dari matanya titik air mata yang panas. "Hamid!" katanya, rupanya kekuatannya kembali sedikit; "Ibu hendak berbicara dengan engkau, penting sekali, Nak!" "Lebih baik ibu diam dahulu, Ibu terlalu payah." "Tidak, Mid, kekuatan ibu dikembalikan Tuhan untuk menyampaikan pembicaraan ini kepadamu." "Apakah yang Ibu maksudkan?" "Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui suatu rahasia pada dirimu." "Rahasia apa Ibu?" "Engkau cinta pada Zainab!" "Ah tidak Ibu, itu barang yang amat mustahil dan itulah yang sangat anakanda takuti. Anakanda tak cinta kepadanya dan takut akan cinta, anakanda belum kenal 'cinta'. Anakanda takkan memperbuat barang yang sia-sia dan percuma, anakanda tahu bahwa jika anakanda mencurahkan cinta kepadanya takkan ubahnya dengan seorang yang mencurahkan semangakuk air tawar ke dalam lautan yang mahaluas; laut takkan berubah sifatnya karena semangkuk air tawar itu." "Wahai Anak, dari susunan katamu itu telah dapat ibu membuktikan, bahwa engkau sedang diserang penyakit cinta. Takut akan kena cinta, itulah dua sifat dari cinta; cinta itulah yang telah merupakan dirinya menjadi suatu ketakutan, iba hati dan kadang-kadang berani. Di hadapan ibumu yang telah lama merasai pahit manis kehidupan tidaklah dapat engkau sembunyikan lagi. Mataku telah kabur, tetapi hatiku masih terang benderang." Anakku, . . . sekarang cintamu masih bersifat angan-angan, cinta itu kadang-kadang hanya menurutkan perintah hati, bukan menurutkan pendapat otak. Dia belum berbahaya sebelum mendalam. Kalau dia telah mendalam, kerap kali kalau yang kena cinta tak pandai ia merusakkan kemauan dan kekerasan hati laki-laki. Kalau engkau perturutkan tentu engkau menjadi seorang anak yang putus asa, apalagi kalau cinta itu tertolak, terpaksa ditolak oleh keadaan yang ada di sekelilingnya ..." "Hapuskanlah perasaan itu dari hatimu, jangan ditimbul-timbulkan juga. Engkau tentu memikirkan juga, bahwa emas tak setara dengan loyang, sutra tak sebangsa dengan benang." "Ayahnya, orang yang telah memenuhi cita-cita kita dengan nikmat, sekarang tak ada lagi, artinya telah putus tali yang memperhubungkan kita dengan rumah tangga orang di sana. Meskipun ibu Zainab seorang perempuan yang penuh dengan budi pekerti, tentu saja kebaikannya kepada kita tidak lagi sebagai di masa suaminya hidup. Apalagi kaum kerabat mereka yang bertali darah, sudah banyak yang akan turut mengatur keadaan pergaulan rumah itu, yaitu orang-orang yang baru tiada mengenal kita." >>>>> |
| 5. SEPERUNTUNGAN |