| Alangkah nikmatnya rasa hatiku mendengar perkataannya itu. Tetapi sebelum saya sempat menyusun kata untuk menjawab, ibu datang, perkataan kami terhenti sehingga itu. Badanku ketika itu serasa bayang-bayang, perkataannya menjadi teka-teki bagi hatiku, adakah tutur katanya itu dari rasa pertalian adik dan kakak saja atau dari pada kesucian cinta? Di dalam pikiran saya terpaksa kepada soal itu, tiba-tiba pada saat itu juga datang suatu kejadian yang menghancur-luluhkan angan-angan saya. Ia diminta oleh ibuku melembutkan hati saya, supaya saya sudi bersuami. Ia menjatuhkan perintah dan hukuman kepada diriku, supaya saya dipunyai oleh orang lain. Tetapi nyata olehku bahwa dia menjatuhkan perintah itu dengan gugup, keringat mengalir di keningnya, seakan-akan ia mengerjakan suatu pekerjaan yang amat berlawanan dengan hatinya. Setelah saya menyatakan tak sanggup menuruti permintaannya itu, ia menarik nafas panjang dan bermenung. Ia pulang ke rumahnya, dan semenjak itu dia tak datang-datang lagi. Akhirnya saya mendengar kabar, bahwa dia telah pergi, telah berjalan jauh dengan tiba-tiba, tidak diberitahu sahabat-sahabatnya yang paling akrab, dia telah meninggalkan saya dengan gelombang angan-angan, akan menempuh suatu tujuan yang masih gelap. Setelah kira-kira sebulan dia hilang, tiba-tiba datanglah suratnya dari Medan, mengucapkan 'selamat tinggal'. Inilah surat itu. Rosna. Inilah dia, bacalah! Isinya sangat menusuk hati. Surat itu saya pandang laksana sehelai azimat untuk penawar luka hatiku, telah kuning dan telah lusuh. Adakah akan masih panjang umurnya, sehingga kelak ia mendapati zaman pertemuan saya dengan Hamid? Semenjak itu, entah dia di lautan entah di daratan, berita tak sampai-sampai lagi, kian lama dia hilang, kian berdiri dia dalam ingatanku. Kadang-kadang saya menjadi seorang yang putus pengharapan, hatiku kerap berkata, bahwa saya takkan bertemu lagi dengan dia. Melihat keadaanku yang demikian, rupanya ibuku pun kasihan, perhitungan hendak mengawinkan aku tiada menjadi pembicaraan lagi. Syukurlah kemanakan ayahku seorang yang bepengetuhuan tinggi; ketika dia singgah ke mari dengan terus terang saya katakan, bahwa dia lebih baik menjadi saudaraku daripada menjadi suamiku, ia menerima dengan hati yang suci. Senantiasa dia saya ratapi, masih hidupkah dia atau telah mati. Tiap-tiap saya baca suratnya, tiap-tiap terbuka di dalam tiap-tiap kalimat dan hurufnya, bahwa ia pun cinta kepada saya. Wahai, mengapa dahulunya sebelum ia pergi ia tak memberi tahu! Sekarang, ke manakah balasan akan saya berikan, ke mana alamat akan saya tujukan! Di sini ada sebuah gambarnya semasa ia menuntut ilmu di Padang Panjang yang dihadiahkannya kepada orang tuaku; gambar itulah yang selalu saya lihat-lihat dan saya letakkan baik-baik dalam album ini. Agaknya engkau pandang rendah saya ini. Ros, mencintai seorang yang tiada sekedudukan dengan diri sendiri, dan jauh tak tentu tempatnya." "Waktu itu istriku menjawab," kata Saleh, ujarnya, "Tidak, Nab, cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lain menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perangai yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain perangai yang terpuji. Saya tiada hendak menghinakan engkau karena engkau jatuh cinta kepadanya, dan saya banyak pula membaca dalam buku-buku, bahwa biasanya cinta yang suci bersih itu tidaklah tumbuh dengan sendirinya. Karena jiwa itu bertemu dalam batin, dalam azal kejadian Allah, sebelum badan kasar manusia ini berkenalan. Itulah kuasa gaib yang perlu kita percaya. Sebab itu saya percaya, bahwa cintamu tak jatuh ke pasir, tentu Hamid mencintai engkau pula; tidaklah jiwa engkau akan tertarik mengingat dia, kalau kiranya jiwanya tak mengingat engkau pula. Hati orang yang bercinta mempunyai mata, ia dapat melihat barang yang tak dilihat oleh orang lain." "Ah," jawab Zainab, "itu cuma kira-kira dan agak-agak belaka. Agak-agak dan kira-kira tak dapat dipercai. Masakan orang yang berpisah sangat jauh, tak berhubungan surat sedikit jua pun akan ingat kepada orang yang ditinggalkannya." "Jangan begitu, Zainab, engkau tiada percaya akan perkataanku, karena hatimu terlalu dipengaruhi oleh angan-anganmu. Percayalah, bahwa Hamid ingat pula akan engkau." "Wahai ... ke sana rumit ke mari rumit, Ros, saya percaya bahwa dia ingat kepadaku sebagaimana saya ingat kepadanya, entah agaknya menggantang-gantang asap. Tidak saya percaya, hati saya bertambah luka. Saya tahu, mengingati orang jauh itu suatu penyakit, tetapi saya pun takut penyakit itu akan hilang dari hati ... aduh Gusti Allah!" >>>>>>>>> |
| >>>>>>>>> |