>>>>>>>>>

"Setelah itu terhenti-henti sendiri percakapan kedua sahabat itu. Yang kedengaran hanya sedu-sedan dua orang yang seperasaan dan yang kelihatan ialah orang yang keluh kesah putus asa."

Sekian cerita yang dibawa sahabat kita Saleh. Tidak berapa lama setelah ia menerima riwayat ganjil dari istrinya, ia pun berangkat. Rupanya dengan takdir Tuhan, kami pun bertemu di Tanah Suci ini, pertemuan yang tiada disangka-sangka sedikit juga.

"Barangkali terganggu perjalanan jiwamu menuju bakti dan kesucian karena mendengar berita yang saya bawa itu," kata Saleh. "Tetapi saya sebangsa orang yang tiada tahan memegang rahasia, sehingga terkatakan juga olehku kepada engkau dan beruntung engkau Hamid ... berbahagia sekali."

"Apakah keuntungan dan bahagianya cinta yang tiada berpengharapan?" tanya saya dengan tiba-tiba kepadanya.

"Bukankah cinta itu sudah satu keuntungan dan satu pengharapan, Hamid?" tanyanya pula.

Setelah selesai menerangkan berita itu, tidak berapa hari kemudian Saleh mengirimkan sepucuk surat kepada istrinya Rosna, menerangkan pertemuan kami yang dengan tiba-tiba itu ...

"Tuhan! ... telah bertahun-tahun saya berjalan di dalam gelap gulita, tidak tentu tanah yang akan saya tempuh, tidak kelihatan suatu bintang pun di atas halaman langit akan saya jadikan pedoman dalam menuju perjalanan itu. Demi setelah sampai berita yang demikian, seakan-akan kegelapan itu terang dari sedikit ke sedikit, sebab dari timur mengelemantang cahaya fajar, cahaya yang saya nanti-nanti. Cahaya itu lebih benderang daripada cahaya surya, lebih nyaman dari cahaya bulan dan lebih dingin dari kerlap-kerlip bintang-bintang.

Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh, laksana seorang bersalah besar yang dibuang ke pulau, tiada manusia yang datang menengok, tidak ada kawan yang melihat, ditimpa haus dan dahaga. Sekarang saya telah lepas daripada pembuangan, saya telah dibolehkan pulang dan beroleh ampun, telah ada manusia, yang lalu lintas, telah hilang haus dan dahaga. Sekarang baru saya tahu, baru saya mengerti, bahwa sukacita itu ada juga dijadikan Tuhan di dalam dunia fana ini.

Dahulu, kalau disebut orang di dekat saya untung dan bahagia, tidak lain yang terlintas dalam pikiran saya dari rumah yang indah, gedung yang permai, uang berbilang, mas bertahil, cukup dengan kendaraan dan kehormatan, dijunjung orang ke mana pergi. Untung bahagia sejati ialah jika tahu, bahwa kita bukan hidup terbuang di dalam dunia ini, tetapi ada orang yang mencintai kita.

Lebih setahun saya menghilangkan diri, tidak ada orang lain yang menanyakan hal-ihwal saya dan saya pun tak menanyakan hal-ihwal orang lain.

Segala kesaksian hidup telah saya tangguhkan, ada orang yang lalu lintas di hadapan saya, sambil menggelengkan kepala. Tetapi bukanlah mereka mengasihi jiwa saya, mereka hanya mengasihi tubuh kasar saya yang kurus tak makan atau ditimpa penyakit. Semuanya tiada berarti buat saya.

Sekarang barulah saya tahu bahwa diri saya ada harganya buat hidup, sebab ada orang yang mencintai saya, yaitu orang yang saya cintai!

Dahulu saya telah putus asa hendak hidup, kadang-kadang terlintas di dalam hati saya hendak membunuh diri. Akan sekarang, saya hendak hidup, hendak merasai kelezatan cahaya matahari, sebagai orang lain pula, sebab pergantungan hidupku telah ada.

Habis cerita sahabatku Hamid sehingga itu, mukanya kelihatan berseri-seri, sebab simpanan dadanya yang meluap selama ini telah dapat ditumpahkannya kepada orang yang dipercayainya.

Waktu itu saya menjawab sambil bergurau sedikit, "Insya Allah. sehabis mengerjakan haji saya akan lekas pulang, mudah-mudahan kita dapat pulang bersama-sama."

Ia pun menjawab sambil tersenyum, "Mudah-mudahan ..."