11. DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH

Pada hari yang kedelapan bulan Zulhijjah, datang perintah dari syekh kami, menyuruh menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Arafah karena pada hari yang kesembilan akan wukuf di sana. Berangkat itu ialah tiga hari setelah kami menerima surat-surat tersebut.

Akan hal Hamid, bermula menerima surat itu tidaklah berkesan pada mukanya, bahwa ia dipengaruhi oleh isinya, tetapi setelah sehari dua, kelihatan ia bermenung saja, bertambah dari biasa. Ketika kami tanyai keadaannya, ia mengatakan, bahwa badannya berasa sakit-sakit. Tetapi oleh karena pergi wukuf ke Arafah menjadi rukun yang tak dapat ditinggalkan pada pekerjaan haji, tak dapat tidak ia pun mesti ikut ke sana. Maka dipasanglah sukduf-sukduf di punggung unta yang ribu-ribu banyaknya, bersedia hendak membawa orang haji ke Arafah itu. Kira-kira pukul enam sore, jemaah-jemaah telah berangkat berduyun-duyun menuju Arafah. Jalan sempit dan penuh oleh manusia dan kendaraan berbagai-bagai, ada yang mengendarai keledai, kuda dan unta, tetapi yang paling banyak duduk dalam sudkuf, yaitu dua buah tandu yang dipasang kiri-kanan punggung unta. Saya bersama Hamid menumpang dalam satu sudkuf.

Di Arafah sangat benar panasnya, sehingga ketika berhenti di tempat itu sehari lamanya, kita ingat-ingat akan berwukuf kelak di Padang Mahsyar. Setelah matahari terbenam kami kembali menuju Mina, berhenti sebentar di Muzdalifah memilih batu untuk melempar "jumrah" di Mina itu kelak. Setelah berdiam di Mina, pada hari yang kesepuluh, kesebelas, kedua belas dan ketiga belas, bolehlah kembali ke Mekah mengerjakan tawaf besar dan sai, setelah itu bercukur, sehabis bercukur baru disebut "haji". Karena telah selesai upacara ibadat yang berat itu.

Pada perhentian besar di Mina itu, orang-orang yang kaya menyembelih korban untuk fakir miskin.

Sekarang kembali diceritakan keadaan Hamid. Demamnya yang dibawa dar Mekah bertambah menjadi, lebih-lebih setelah ditimpa hawa yang sangat panas di Arafah. Hamid tak mau lagi makan, badannya sangat lelah, sehingga seketika berangkat ke Mina ia tiada sadar akan dirinya. Demi melihat hal itu jantung saya berdebar-debar, saya kasihan kepadanya, kalau-kalau di tempat itulah dia akan bercerai buat selama-lamanya dengan kami, lebih-lebih melihat mukanya yang sangat pucat dan badannya sangat lemah.

Setelah selesai penyembelihan besar itu, pada hari yang kedua belas kami berangkat ke Mekah, yaitu mengerjakan rukun yang agak cepat, tidak menunggu sampai tiga hari. Sebelum mengerjakan tawaf besar, lebih dahulu kami singgah ke rumah kami. Karena penyakit Hamid rupanya bertambah berat, terpaksalah kami mencarikan orang Badui upahan, yang biasanya menerima upah mengangkat orang sakit mengerjakan tawaf. Sebelum Hamid diangkat ke atas bangku itu, yang diberi hamparan dari kulit dahan kurma berjalin, khadam syekh terburu-buru mengantarkan sepucuk kawat dari Sumatra! Setelah kami buka, ternyata datang dari Rosna. Muka Saleh menjadi pucat, jantung saya berdebar membaca isinya yang tiada disangka-sangka: Zainab wafat, surat menyusul Rosna.

Setelah dibacanya, dengan sikap yang sangat gugup Saleh menyimpan surat kawat itu ke dalam koceknya, sambil memandang kepada Hamid dengan perasaan yang sangat terharu.

Tiba-tiba dari tempat tidurnya, Hamid kedengaran berkata, "Surat apakah yang tuan-tuan terima? Apakah sebabnya tuan-tuan sembunyikan dariku? Adakah ia membawa kabar suka atau kabar duka? Jika ia kabar suka, tidakkah patut saya diberi sedikit kesukaan itu? Kalau kabar itu mengenai diri saya sendiri, lebih baik tuan-tuan sembunyikan lama-lama, jangan dibiarkan saya di dalam sakit menanggung perasaan yang ragu-ragu."

"Tenangkanlah hatimu, Sahabat!" kata Saleh. "Kehendak Allah telah berlaku. Ia telah memanggil orang yang dicintai-Nya ke hadirat-Nya."

"O, jadi Zainab telah dahulu dari kita?" tanyanya pula. Setelah termenung sejenak. Saleh menganggukkan kepalanya.

Melihat itu kepalanya tertekun, ia menarik nafas panjang, dari pipinya meleleh dua titik air mata yang panas.

Tiada berapa saat kemudian datanglah Badui tersebut dengan temannya membawa tandu yang kami pesan. Hamid pun dipindahkan ke dalam dan diangakat dengan segera menuju Masjidil Haram; saya dan Saleh mengiringkan di belakang menurutkan kedua Badui yang berjalan cepat itu. Setelah sampai di dalam mesjid, dibawalah dia tawaf keliling Ka'bah tujuh kali. Ketika sampai pada yang ketujuh kali, diisyaratkan kepada Badui yang berdua itu menyuruh menghentikan tandunya di antara pintu Ka'bah dengan Batu Hitam (Hajar Aswad), di tempat yang bernama Multazam, tempat segala doa makbul. Orang lain tawaf pula berdesak-desak. Dengan sigap orang-orang Badui itu mengangkat tandu ke dekat tempat tersebut. Hati saya sangat berdebar melihat keadaan itu; saya lihat pula muka Hamid, sudah tampak terbayang tanda-tanda dari kematian. Sesampai di sana diulurkannya tangannya, dipegangnya kiswah kuat-kuat dengan tangannya yang kurus, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi. Saya dekati dia, kedengaran oleh saya dia membaca doa demikian bunyinya:
>>>>>>>>>>>